Bursa Asia Menguat dan Harga Minyak Brent Anjlok Imbas Sinyal Damai AS-Iran

Share

Pasar saham di kawasan Asia mengalami penguatan yang signifikan sementara harga minyak mentah dunia jatuh. Pergerakan ini terjadi setelah perwakilan pemerintah Amerika Serikat (AS) memberikan indikasi bahwa kesepakatan dengan Iran terkait pembukaan kembali Selat Hormuz sudah semakin dekat.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, indikator pasar saham regional MSCI Asia Pacific mengalami kenaikan sebesar 1 persen. Lonjakan ini dipimpin oleh indeks Nikkei Jepang yang melesat hingga 2,8 persen.

Sebaliknya, harga minyak mentah jenis Brent merosot lebih dari 4,6 persen ke level US$98,70 per barel. Angka tersebut menjadi tingkat terendah dalam waktu dua minggu terakhir seiring harapan pulihnya jalur pasokan energi di Timur Tengah.

Kondisi penurunan harga komoditas ini ikut mendongkrak kontrak berjangka obligasi AS (Treasury). Transaksi obligasi fisik sendiri sedang dihentikan pada hari Senin karena libur nasional di AS, Hong Kong, dan London, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang, Australia, dan Selandia Baru kompak melemah.

Kontrak berjangka indeks S&P 500 tercatat naik 0,7 persen setelah indeks utama tersebut mencetak rekor penguatan delapan pekan beruntun. Di sisi lain, mata uang Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang G-10, sedangkan emas serta perak bergerak naik.

Sejumlah pejabat senior AS mengungkapkan bahwa kesepakatan pembukaan jalur laut tersebut kini sedang mendekati tahap akhir. Meski begitu, proses negosiasi beberapa poin krusial masih berjalan dan membutuhkan waktu penyelesaian dalam beberapa hari ke depan.

Namun, kantor berita Iran, Tasnim, memberikan peringatan bahwa draf perjanjian tersebut masih berpotensi gagal. Pihak Iran menilai Amerika Serikat menghambat sejumlah klausul penting, termasuk tuntutan pencairan aset Teheran yang sedang dibekukan.

Sentimen positif di pasar global ini muncul setelah kebuntuan yang terjadi pasca-gencatan senjata pada April lalu. Investor terus memantau dampak konflik geopolitik ini terhadap tingkat inflasi dan pergerakan imbal hasil obligasi dunia.

"Pasar telah berada dalam mode bersiap menghadapi situasi pasca-perang Iran selama sebulan terakhir," ujar Alison Shimada, Manajer Portofolio Allspring, dalam wawancaranya di Bloomberg TV.

"Saya tertarik untuk mengambil posisi pada apa yang terjadi di luar penurunan harga minyak, karena saya pikir kedua belah pihak memang menginginkan akhir perang melalui negosiasi."

Meskipun proses diplomasi terus berjalan, Donald Trump memberikan penegasan bahwa dirinya tidak akan terburu-buru dalam meresmikan kesepakatan tersebut. Proses diskusi ini juga berjalan atas dorongan dari beberapa pemimpin negara Arab.

Kendala utama dalam draf kesepakatan sementara ini masih berpusat pada program nuklir Iran. Pihak Teheran sendiri secara konsisten menyatakan bahwa mereka tidak memiliki tujuan untuk mengembangkan senjata nuklir.

“Saya rasa pasar cukup optimistis secara hati-hati terhadap perkembangan di Timur Tengah, sehingga ada sedikit sentimen risk-on,” kata Kepala Analis Pasar AT Global Markets Nick Twidale.

“Trump sudah berubah dari mengatakan ‘kesepakatan segera tercapai’ menjadi ‘saya tidak terburu-buru’ akhir pekan ini. Jadi menurut saya peluang kesepakatan kembali 50:50, meski tentu positif bahwa mereka masih bernegosiasi.”

Para pelaku pasar kini sedang mengalihkan perhatian pada rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS dan angka inflasi Eropa pekan ini. Data tersebut akan menjadi indikator penting arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Pasar saat ini memproeksikan adanya kenaikan suku bunga Federal Reserve pada akhir tahun. Langkah ini disiapkan untuk mendukung Gubernur The Fed yang baru, Kevin Warsh, dalam menekan laju inflasi global.

Kevin Warsh yang baru dilantik telah berkomitmen untuk membawa perubahan besar pada institusi tersebut. Trump juga memastikan akan mendukung independensi bank sentral demi menjaga kepercayaan para investor.

Di belahan dunia lain, China memperketat pengawasan terhadap aktivitas perdagangan lintas batas ilegal demi mencegah pelarian modal keluar negeri. Kebijakan tegas dari delapan regulator ini sempat memicu koreksi pada saham-saham perusahaan China yang melantai di bursa saham AS.

Sementara itu, penurunan harga minyak pada awal pekan didorong oleh mulai pulihnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Sebanyak 33 kapal komersial dan tanker dilaporkan telah mendapatkan izin melintas dari Angkatan Laut Garda Revolusi Iran dalam 24 jam terakhir.

“Pembukaan kembali Hormuz tentu positif bagi arus minyak global, tetapi sifat negosiasi yang masih dinamis dan perbedaan yang belum terselesaikan menunjukkan volatilitas harga minyak kemungkinan masih akan berlangsung,” tulis analis ANZ Bank, termasuk David Croy, dalam catatan kepada klien.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author