BI Rate Naik 5,5 Persen, Imbal Hasil Pasar Surat Utang Negara Menurun
Aksi beli mewarnai pasar Surat Utang Negara (SUN) pada sesi perdagangan Rabu (10/6/2026). Langkah investor ini terjadi seiring penguatan mata uang rupiah yang terus bertahan di bawah level Rp18.000 per dolar AS setelah Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuan menjadi 5,5%.
Data Bloomberg menunjukkan penurunan imbal hasil (yield) terjadi pada hampir seluruh tenor obligasi. Dilansir dari BloombergTechnoz, yield tenor acuan 10 tahun merosot paling tajam hingga 15,2 basis poin (bps) ke posisi 7,26%.
Penurunan yield juga diikuti oleh tenor 7 tahun sebesar 11 bps menjadi 7,35%, serta tenor 8 tahun yang melemah 7,1 bps ke level 7,28%. Sementara itu, obligasi dengan tenor 5 dan 6 tahun kompak mencatat penurunan masing-masing sebesar 5,2 bps menjadi 7,33%, sedangkan tenor pendek 1 tahun turun terbatas 0,7 bps ke posisi 7,27%.
Di sisi lain, beberapa tenor justru masih mengalami kenaikan imbal hasil. Yield obligasi tenor 2 tahun terpantau naik 1,3 bps menjadi 7,29%, tenor 11 tahun naik 1 bps ke 6,93%, dan tenor 13 tahun melonjak paling tinggi hingga 38,3 bps menjadi 7,51%.
Kondisi serupa melanda obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS atau INDON yang turut membukukan penurunan imbal hasil, walau tidak sedalam pergerakan SUN. Yield INDON tenor 10 tahun terpangkas paling dalam sebesar 2,2 bps ke level 5,5%, disusul tenor 7 tahun yang turun 1,4 bps menjadi 5,15%.
Selanjutnya, obligasi INDON tenor 2 tahun mencatat penurunan tipis 0,4 bps ke posisi 4,24%, dan tenor 5 tahun merosot 1,1 bps menjadi 4,91%. Namun, instrumen tenor 3 tahun bergerak sebaliknya dengan kenaikan tipis 0,2 bps menjadi 4,53%.Tren positif di pasar obligasi ini mengindikasikan bahwa keputusan BI mengerek suku bunga acuan di luar jadwal rapat reguler mampu menyuntikkan sentimen positif jangka pendek. Investor menilai kebijakan tersebut sebagai isyarat ketegasan bank sentral dalam memitigasi risiko keuangan domestik.
Meskipun demikian, optimisme pelaku pasar diprediksi masih akan menghadapi tantangan lanjutan akibat penurunan yield yang belum merata di semua lini. Pergerakan yang bervariasi ini memperlihatkan bahwa pasar obligasi masih beradaptasi terhadap sejumlah risiko makro.
Ketidakpastian global turut dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah setelah pasukan militer AS dilaporkan meluncurkan serangan terhadap Iran. Ketegangan geopolitik tersebut berisiko meningkatkan minat investor terhadap aset aman (safe haven) seperti dolar AS yang saat ini tercermin dari posisi indeks dolar AS di level 99,91.
Fokus jangka pendek pelaku pasar kini tertuju pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 18 Juni mendatang. Investor ingin melihat apakah kenaikan suku bunga sebesar 25 bps merupakan awal dari siklus pengetatan moneter yang lebih agresif atau hanya respons temporer.
Jika volatilitas rupiah berhasil ditekan di rentang Rp17.500 hingga Rp17.900 per dolar AS hingga pelaksanaan RDG bulan ini, maka BI berpeluang untuk tetap mempertahankan BI Rate di level 5,5%.