BI Naikkan Suku Bunga Acuan Menjadi 5,5 Persen untuk Amankan Rupiah

Share

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dengan pergerakan stagnan pada level Rp17.899/US$, setelah sempat mencatatkan penguatan 1,61% saat penutupan sesi sebelumnya.

Seperti dikutip dari Bloombergtechnoz, mata uang Garuda di pasar luar negeri kemudian kembali melemah sebesar 0,45% ke posisi Rp17.974/US$ pada pukul 07:17 WIB.

Kondisi eksternal ikut dipengaruhi oleh indeks dolar AS yang bergerak ke posisi 99,98 dari level sebelumnya di 100,01, meski masih menyimpan potensi penguatan akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Militer Amerika Serikat dilaporkan meluncurkan serangan dengan dalih bela diri terhadap Iran, menyusul tuduhan Presiden Donald Trump bahwa Teheran menembak jatuh helikopter militer mereka di lepas pantai Oman.

Eskalasi konflik di Timur Tengah ini memicu kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 1,73% menjadi US$93,03 per barel, yang kemudian menekan sejumlah mata uang regional.

Pada pasar yang telah berjalan, baht Thailand terpantau melemah 0,27%, ringgit Malaysia turun 0,19%, dolar Singapura terkoreksi 0,05%, dan yen Jepang menyusut 0,04%.

Di sisi lain, won Korea Selatan mempertahankan tren positif dengan menguat 0,53%, diikuti oleh penguatan tipis yuan offshore sebesar 0,03%.

Langkah mengejutkan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% di luar jadwal reguler, menjadi sinyal kuat ketegasan bank sentral dalam meredam tekanan eksternal.

Namun, respons pasar mengindikasikan bahwa stabilitas rupiah membutuhkan solusi yang lebih komprehensif daripada sekadar penyesuaian tingkat suku bunga.

Sejak BI mengumumkan kenaikan suku bunga sebesar 50 bps pada Mei lalu, performa mata uang domestik tercatat masih mengalami penurunan sebesar 2,6%.

Ekonom Bloomberg Economics Tamara Henderson menilai, kebijakan pengetatan moneter terbaru tersebut belum cukup kuat untuk memulihkan sentimen pasar dan menghentikan fluktuasi rupiah.

"Kecuali pemerintah melakukan perubahan kebijakan yang kredibel dan mampu secara signifikan mengurangi risiko investasi yang terakumulasi," kata Henderson dalam catatannya.

Tamara Henderson memproyeksikan Bank Indonesia perlu mengerek BI Rate sebesar 75 bps lagi pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) tanggal 18 Juni mendatang demi menahan laju depresiasi secara efektif.

Intervensi pasar dan pengetatan moneter dipandang hanya sebagai pereda gejala sementara, yang belum menyentuh akar persoalan kepercayaan pasar terhadap risiko kebijakan.

Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk (BNLI), memperkirakan Bank Indonesia masih akan melanjutkan tren pengetatan moneter pada periode berikutnya.

"Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan menjaga stabilitas markoekonomi dan pasar keuangan," kata Faisal.

Faisal memprediksi bank sentral bakal mengerek kembali suku bunga acuan sebesar 25 bps hingga menyentuh level 5,75% pada kuartal III-2026.

Proyeksi yang lebih agresif datang dari Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, terkait langkah moneter berikutnya.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan kembali mengumumkan kenaikan suku bunga pada 18 Juni mendatang sebesar 50 basis poin (bps), sehingga BI Rate menjadi 6%," sebut Lionel.

Secara teknikal, rupiah diproyeksikan memiliki peluang untuk melanjutkan pembalikan arah atau rebound pada perdagangan hari ini.

Mata uang nasional berpotensi menguat menuju area resistance potensial di kisaran Rp18.000/US$ hingga bergerak ke arah Rp17.950/US$.

Apabila pergerakan nilai tukar berhasil menembus zona Rp17.900/US$, peluang penguatan dapat terus berlanjut hingga mencapai level Rp17.700/US$.

Sebaliknya, rupiah memiliki batas support psikologis pada level Rp18.100/US$, yang jika tertembus akan mengonfirmasi penurunan lebih lanjut menuju support berikutnya di Rp18.200/US$.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author