Produk UMKM Batik Modern Goodthings Tarik Minat Sejumlah Wakil Menteri
Jenama fashion batik modern asal Indonesia, Goodthings, berhasil menarik minat sejumlah wakil menteri perempuan untuk membeli produknya dalam acara Imlek Festival di Lapangan Banteng baru-baru ini. Penjualan produk tersebut dirintis sejak tahun 2024 sebagai respons terhadap maraknya bisnis pakaian bekas impor atau thrifting.
Usaha kemeja, outer, hingga cardigan batik ini dibangun oleh Angela bersama kakak dan iparnya, seperti dilansir dari Detikcom. Sebelum produknya diminati para pejabat, jenama ini sempat dinilai biasa saja saat mengikuti proses kurasi ekspor Kementerian Perdagangan.
"Tadinya tuh kita kayak yang punya brand, tapi kayak anak hilang yang enggak tahu mau ke mana nih jualannya, taunya cuma mau di apa, e-commerce, tapi kok ternyata tidak segacor itu, gitu," ujar Angela, Co-founder Goodthings.
Setelah mendapat masukan dari kurasi tersebut, Angela tertantang untuk mengombinasikan motif wastra Nusantara seperti batik dengan pola salur modern. Pola kombinasi ini diproduksi menggunakan metode cetak agar bisa dijual dengan harga yang lebih terjangkau bagi para pekerja kantoran.
"Brand yang menurut saya dan menurut keluarga saya udah sangat bagus ini ternyata dianggap biasa. Ketika kurasi itu, apalagi ada yang ngomong gini, 'Mbak mau jualan ekspor ke luar negeri, kalau brandnya kayak gini mah biasa banget, semua negara bisa bikin brand kayak gini'" kata Angela.
Inovasi produk terus berlanjut hingga Goodthings meluncurkan produk luaran atau outer batik. Produk ini dijual dengan kisaran harga Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu dan mendapatkan respons yang sangat baik dari para konsumen saat pameran.
"Membuat kami terpacu bahwa, oke, karena ini pakai batiknya printing, berarti kita bisa jualin harga yang 200 ribuan nih, karena kami berpikir di Indonesia bahkan di setiap kantor itu sudah mengharuskan kadang-kadang seminggu sampai 2 kali ya pakai batik. Kan nggak semua orang pekerja yang gajinya gede," sebut Angela.
Pihak manajemen kemudian memanfaatkan media sosial Instagram untuk memperkuat penjenamaan melalui teknik penceritaan. Strategi promosi digital ini diperkuat setelah sejumlah tokoh publik mulai memakai luaran batik produksi mereka.
"Itu kita teruskan. Itu kita jadikan sebagai kekuatan kita nih. Gue jual wastra, campur modern, kualitasnya bagus tapi harga affordable. Nah, ternyata kita makin lama makin dikenal nih, gitu," sebut Angela.
Momentum pertumbuhan bisnis didapatkan saat Goodthings mengikuti Imlek Festival di Lapangan Banteng. Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menjadi pejabat pertama yang membeli produk luaran berwarna merah muda tersebut.
"Kita bisa jual itu under Rp 500 ribu, mungkin Rp 400-450 ribu dan ternyata antusiasnya pelanggan malah suka ke situ. Oh jadi setiap kita apa namanya kalau bahasa kita kalau kita pameran, gacor lah gitu ceritanya," jelas Angela.
Keesokan harinya, Irene Umar datang kembali bersama Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan yang turut membeli dua pakaian. Pada hari berikutnya, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa juga ikut membeli produk batik modern tersebut.
"Jadi ketika kita ikut Imlek Festival kemarin di Lapangan Banteng, kita jadi yang pertama kali datang tuh sebenarnya Ibu Irene Umar Wamen Ekraf ya. Nah, beliau datang, beliau beli nih outer tersebut tapi di warna yang pink waktu itu," ujar Angela.
Foto Ni Luh Puspa yang mengenakan produk luaran tersebut kemudian diunggah di akun Instagram resmi Goodthings setelah mendapatkan izin. Unggahan itu berdampak signifikan terhadap peningkatan permintaan dari konsumen lain melalui pesan langsung.
"Besokannya Bu Irene datang lagi nih, lewat lah, maksudnya mereka mau ngecek, tapi Bu Irene bawa saat itu Bu Veronica Tan. Mampir lah mereka dan Ibu Vero beli juga nih, 2 kalau nggak salah.
"Nah, lalu besokannya kan mereka memang setiap hari harus lewat, maksudnya memantau. Besoknya lewat lagi bareng sama Ibu Ni Luh Puspa, Ibu Ni Luh juga beli," imbuh Angela.
Perkembangan usaha ini juga didukung oleh keikutsertaan Angela dalam program Instagram Growpreneur oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Usaha tersebut berhasil terpilih masuk dalam jajaran 10 besar Asah Usaha Inkubasi Fashion.
"Dari situ banyak nih yang DM, saya mau bajunya kayak Bu Ni Luh Puspa. Atau kalau misalnya saya pameran, terus ada ibu-ibu pejabat apalagi ya yang datang, 'Ini bajunya harganya berapa?' Kalau mereka udah mau mulai 'Ih, mahal ya gitu', 'Ih, Ibu Ni Luh Puspa Wamenpar pakai loh, ini buktinya'. Ini tuh works banget gitu dan akhirnya, 'Oh ya udah saya ambil warna ini', gitu dan akhirnya produk tersebut itulah yang sekarang tuh lagi jadi andalannya kita gitu," katanya Angela.
Pada September 2025, Goodthings resmi bergabung menjadi bagian dari Rumah BUMN BRI di Slipi. Di tempat ini, para pelaku usaha mendapatkan berbagai materi pelatihan terkait aspek penjenamaan, manajemen keuangan, pengelolaan arus kas, sumber daya manusia, hingga perpajakan.
"Jadi kalau kita masuk by BRI itu jadi kita ngerasa bangga banget bahwa masuk nih kepilih dari 10 yang saingannya lumayan banyak kan. Jadi mereka tuh bikin acaranya gak mau banyak-back. Jadi mereka kurasi ketat dan pilihannya cuma 10 supaya belajarnya juga fokus. Nah, sebenarnya dari pelatihan itulah yang kita gunakan yang kita terapkan dan akhirnya ya Goodthings di sini sampai kayak sekarang gitu," sebut Angela.
Sejak menjadi mitra binaan Rumah BUMN BRI, Angela telah difasilitasi untuk mengikuti dua kali pameran besar. Fasilitas ini membantu memperluas eksposur produk dan mendatangkan pelanggan baru yang melakukan pemesanan berulang.
"Mereka ngajarin kita branding-annya, bahkan ngajarin cara mengelola keuangannya, bagaimana cash flow kan. Terus apa namanya banyak hal ya, kayak SDM-nya harus bagaimana gitu-gitu sih, pajak dan segala macem. Nah, itu yang akhirnya kita pakai, kita gunakan.
Nah, terus akhirnya kita jadi masuk nih ke Rumah BUMN yang di Slipi. Sebenarnya dari situ," imbuh Angela.
Saat ini omzet bulanan dari lini produk Goodthings berada di bawah Rp 50 juta karena skala produksinya yang belum berbentuk konveksi besar. Kendati demikian, pendapatan operasional tersebut naik secara signifikan setiap kali jenama ini dilibatkan dalam pameran fisik.
"Kalau dari Rumah BUMN itu 2 kali mengundang kami di pameran dan itu kami mendapatkan new exposure banyak yang akhirnya orang-orang yang beli di sana yang baru tahu Goodthings di acara itu dan akhirnya nanti repeat order, entah dari DM, entah yang akhirnya datang ke pameran kita gitu, jadi terjalin gitu loh," beber Angela.
Program Growpreneur sendiri dijalankan sebagai bagian dari komitmen BRI untuk meningkatkan kapabilitas pelaku UMKM melalui edukasi, pemantauan, akses pasar, dan jaringan bisnis. Selaras dengan hal itu, Rumah BUMN BRI Jakarta berfungsi sebagai pusat pembinaan fisik bagi pelaku usaha lokal.
"Sebulannya sih nggak gede banget ya, karena kita kalau dari Goodthings ya, masih belum konveksi ya. Jadi kalau Goodthings itu paling masih under 50 gitu, cuma menurut saya ini sudah bisa meng-cover, karena kalau misalnya keseluruhan kan ada produk yang lain tuh,
"Jadi kalo dari rumah BUMN kami diajak untuk pameran yang mempengaruhi, sangat memengaruhi omzet kita," imbuh Angela.
Fasilitas di Rumah BUMN tersebut dirancang untuk mengasah kompetensi bisnis para anggota agar bisa naik kelas. Komitmen pendampingan digital dan penyediaan akses modal menjadi fokus utama dalam memperluas jangkauan pasar pelaku usaha mikro.
"Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar," ujar Jajang, Koordinator Rumah BUMN Jakarta.