Bank Indonesia Catat Uang Primer Mei 2026 Susut Rp181,9 Triliun
Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi uang primer atau base money yang disesuaikan (M0 adjusted) pada Mei 2026 mencapai Rp2.214,6 triliun. Posisi tersebut menunjukkan penurunan sebesar Rp181,9 triliun atau terkontraksi 7,6%.
Penurunan ini dihitung dari titik puncak pelonggaran yang terjadi pada akhir kuartal I-2026, tepatnya Maret 2026 yang sempat menembus Rp2.396,5 triliun. Dilansir dari Bloombergtechnoz, tren penurunan likuiditas ini sudah mulai tampak sejak April 2026 yang tercatat sebesar Rp2.232,2 triliun.
Data uang primer ini merupakan indikator utama yang menggambarkan ketersediaan likuiditas dalam sistem perekonomian. Berkurangnya jumlah uang beredar dalam dua bulan terakhir mengindikasikan bahwa langkah stabilitas rupiah harus dibayar dengan kondisi likuiditas yang lebih ketat.
Upaya menstabilkan nilai tukar rupiah berjalan beriringan dengan peningkatan drastis instrumen pengendalian moneter Bank Indonesia. Nilai instrumen tersebut melonjak hingga 57,8% secara tahunan dari Rp541,9 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp855,1 triliun pada Mei 2026.
Kenaikan signifikan ini memperlihatkan bank sentral semakin agresif menyerap kelebihan likuiditas di pasar. Mekanisme penyerapan dilakukan melalui berbagai instrumen operasi moneter, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kebijakan pengetatan tersebut mulai membuahkan hasil pada stabilitas makroekonomi. Aktiva luar negeri bersih (net foreign assets) terpantau masih kokoh di atas Rp2.000 triliun, tepatnya pada angka Rp2.038 triliun, meski terkoreksi 2,6% secara tahunan.
Penurunan aktiva luar negeri bersih ini dipicu oleh lonjakan kewajiban kepada bukan penduduk yang naik 34% secara tahunan. Nilainya bertambah Rp204,1 triliun, dari sebelumnya Rp599,5 triliun menjadi Rp803,6 triliun.
Dampak Terhadap Likuiditas Perbankan dan Kredit
Langkah bank sentral dalam mempertahankan nilai tukar membawa konsekuensi langsung terhadap aktivitas ekonomi domestik. Dampak riilnya terlihat dari ruang ekspansi likuiditas perbankan yang menjadi lebih terbatas pada data uang primer periode Mei.
Giro bank umum di BI menyusut menjadi Rp417,6 triliun dari posisi Maret yang sempat melonggar. Penurunan ini menjadi indikator kuat bahwa ketersediaan dana di dalam sistem perbankan nasional tidak lagi selonggar periode sebelumnya.
Situasi makro ini berpotensi membuat perbankan bertindak lebih selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Efek lanjutannya dapat menahan laju ekspansi investasi serta aktivitas produksi pada sektor korporasi dan industri.
Bagi sektor rumah tangga, pengetatan likuiditas berisiko membatasi pertumbuhan kredit konsumsi serta pembiayaan ke sektor riil. Kendati demikian, jika ditinjau secara tahunan, giro bank umum di BI sebenarnya masih tumbuh 14% dari posisi Mei 2025 yang sebesar Rp366,3 triliun.
Selain itu, giro bank umum di BI (adjusted) juga tumbuh 11,7% atau bertambah Rp87,5 triliun dari posisi Rp750,2 triliun pada Mei 2025 menjadi Rp837,6 triliun pada Mei 2026.
Konsumsi Masyarakat dan Peran Belanja Negara
Data uang primer bulan Mei memperlihatkan bahwa daya beli dan konsumsi masyarakat belum sepenuhnya melemah. Uang kartal yang diedarkan di masyarakat tetap tumbuh sebesar 12,1% secara tahunan menjadi Rp1.323,7 triliun.
Peningkatan peredaran uang tunai ini menjadi sinyal bahwa aktivitas transaksi riil di masyarakat masih bergerak positif. Sektor konsumsi ini menjadi pilar utama yang menopang pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tekanan moneter.
Dari sektor keuangan negara, kewajiban BI kepada pemerintah tercatat mengalami penurunan sebesar 33,4% atau berkurang sekitar Rp150 triliun. Posisi tersebut kini berada di angka Rp300,2 triliun dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp450,5 triliun.
Kondisi fiskal ini mengindikasikan bahwa sebagian dana pemerintah yang tersimpan di bank sentral mulai disalurkan ke masyarakat melalui belanja negara. Kebijakan fiskal mulai mengambil peran lebih besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi saat kebijakan moneter sedang diperketat.
Langkah pengetatan moneter diambil karena risiko eksternal yang semakin tinggi memasuki kuartal II-2026. Sepanjang kuartal kedua ini, mata uang rupiah mengalami pelemahan sebesar 4,76%, memburuk dari kuartal I-2026 yang hanya melemah 1,79%.
Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan, depresiasi rupiah telah mencapai 6,47% dan menempatkannya sebagai mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia. Secara keseluruhan, data uang primer menunjukkan ekonomi tetap melaju disokong konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah, sementara ekspansi kredit swasta masih terbatas.