Amerika Serikat Serang Lokasi Radar dan Pusat Komando Drone Iran

Share

Militer Amerika Serikat melancarkan serangan udara yang menargetkan lokasi radar serta pusat komando drone milik Iran di kawasan Goruk dan Pulau Qeshm. Aksi bersenjata tersebut diklaim oleh pihak Washington sebagai sebuah bentuk serangan pertahanan diri.

Operasi militer terbaru di kawasan Timur Tengah tersebut diumumkan secara resmi oleh Komando Pusat AS (CENTCOM), sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan AFP dan Anadolu Agency pada Senin (1/6/2026). Pihak militer AS menegaskan bahwa tindakan ini diambil sebagai respons langsung atas agresivitas pasukan Iran.

"Komando Pusat AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap lokasi radar dan komando serta kendali drone Iran di Goruk, Iran, dan Pulau Qeshm pada akhir pekan ini," kata CENTCOM.

Penghancuran fasilitas militer tersebut dipicu oleh peristiwa jatuhnya pesawat tanpa awak milik Amerika Serikat sebelumnya. CENTCOM menyatakan bahwa tindakan ofensif Iran terhadap aset udara mereka menjadi penyebab utama dilakukannya serangan balasan tersebut.

"Serangan yang terukur dan disengaja ini terjadi pada Sabtu (30/5) dan Minggu (31/5) sebagai respons atas tindakan agresif Iran yang mencakup menembak jatuh drone MQ-1 AS yang beroperasi di atas perairan internasional," sebut CENTCOM.

Menyusul insiden penembakan drone, jet tempur Amerika Serikat segera dikerahkan menuju lokasi sasaran. Berdasarkan keterangan resmi, serangan udara itu berhasil melumpuhkan beberapa infrastruktur pertahanan penting milik Iran yang dinilai membahayakan jalur pelayaran regional.

"Tidak ada personel militer Amerika yang terluka," imbuh CENTCOM.

Kendati situasi di area konflik kembali memanas, pihak Washington menyatakan komitmennya untuk tetap menjaga stabilitas keamanan dan melindungi seluruh aset milik negara di Timur Tengah. Langkah defensif ini disebut tetap berjalan di tengah situasi gencatan senjata yang masih berlaku.

"sebagai respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan selama gencatan senjata yang sedang berlangsung," tegas CENTCOM.

Kondisi di kawasan Timur Tengah sendiri belum sepenuhnya stabil sejak pecahnya perang berskala besar yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu. Meskipun intensitas pertempuran sempat mereda akibat gencatan senjata sejak awal April yang diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump, eskalasi terbaru ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tersebut masih berada dalam tensi tinggi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author