AS Serang Iran Hingga Harga Minyak WTI Melonjak Dekat Level US$90
Harga minyak mentah dunia kembali merangkak naik menyusul serangan udara baru Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran pada Rabu, 10 Juni 2026. Ketegangan militer di Timur Tengah ini memicu kekhawatiran baru atas kelangsungan gencatan senjata yang kian rapuh di kawasan tersebut.
Lonjakan harga sempat membuat minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 2% hingga mendekati level US$90 per barel, sebelum akhirnya melepaskan sebagian keuntungan tersebut, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz. Sehari sebelumnya, indeks acuan AS ini ditutup melemah 3,4% akibat instruksi langsung dari Presiden Donald Trump untuk meluncurkan serangan bela diri.
Militer AS mengonfirmasi bahwa operasi udara tersebut diluncurkan sebagai tindakan balasan atas jatuhnya helikopter jenis Apache milik mereka. Komando Sentral AS (Centcom) menegaskan posisi mereka mengenai keabsahan operasi militer tersebut melalui sebuah pernyataan resmi.
"Misi ini merupakan respons proporsional terhadap agresi Iran yang tidak berdasar," ungkap Komando Sentral AS (Centcom).
Serangan rudal tersebut menyasar Pulau Qeshm yang berlokasi di wilayah strategis Selat Hormuz. Berdasarkan laporan media resmi pemerintah Iran, IRIB, setidaknya terdengar enam ledakan besar di lokasi kejadian tak lama setelah rudal menghantam kawasan tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memberikan respons tegas terkait eskalasi ini dan memastikan pihak militer mereka siap mengambil tindakan lanjutan.
"serangan atau ancaman apa pun berlalu tanpa balasan." tegas Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Sebelum terjadinya aksi saling serang, Presiden Donald Trump secara terbuka menuduh Iran menembak jatuh helikopter Apache AS yang sedang berpatroli. Dampak dari konflik ini dinilai berpotensi memperpanjang blokade ganda di Selat Hormuz yang mengancam pasokan energi global.
Analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic, memberikan analisis terkait dampak psikologis dari respons militer AS terhadap pergerakan pasar komoditas global.
“Peristiwa ini semakin menunjukkan bahwa kesepakatan dengan Iran masih jauh dari kenyataan,” kata Saul Kavonic, analis energi senior di MST Marquee.
Kavonic juga menambahkan bahwa pelaku pasar masih melihat adanya peluang diplomasi karena skala serangan yang diluncurkan belum masuk ke dalam kategori perang terbuka.
“Namun pasar sedikit terhibur karena serangan tersebut masih bersifat proporsional, bukan serangan total. Hal itu menunjukkan bahwa keinginan untuk mencapai kesepakatan masih lebih besar dibandingkan keinginan untuk melanjutkan perang,” ujarnya.
Penurunan pasokan global kian nyata setelah American Petroleum Institute (API) melaporkan penurunan persediaan minyak mentah AS sebesar 9,1 juta barel pada pekan lalu. Angka ini menempatkan stok minyak AS pada level terendah dalam empat bulan terakhir.
Kondisi pasar komoditas yang semakin ketat diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan penyusutan cadangan minyak dunia secara konstan.
“Setiap hari yang berlalu semakin memperketat pasar karena cadangan minyak global terus turun ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Kavonic.
Pada perdagangan Rabu pukul 06.42 waktu Singapura, minyak WTI untuk pengiriman Juli tercatat naik 1% ke posisi US$89,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Agustus ditutup melemah 3% pada level US$91,45 per barel.