Amerika Serikat dan Iran Belum Capai Kesepakatan Gencatan Senjata
Amerika Serikat dan Iran masih berselisih mengenai potensi gencatan senjata menjelang akhir pekan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di tengah konflik yang mendekati hari ke-100 dan klaim Teheran atas kedaulatan Selat Hormuz, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Perselisihan ini terus bertahan setelah bentrokan semalam antara Hizbullah dan Israel di Lebanon selatan, di mana pihak Iran tetap bersikeras agar gencatan senjata di wilayah tersebut tercapai sebelum adanya kesepakatan dengan pihak Amerika Serikat.
Perundingan yang dimediasi oleh pihak ketiga sejauh ini belum menunjukkan hasil yang signifikan bagi kedua belah pihak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan belum ada “kemajuan nyata” dalam perundingan meski kedua pihak terus bertukar pesan melalui mediator.
Di sisi lain, perwakilan militer Iran menegaskan bahwa keputusan kini berada di tangan pemerintah Amerika Serikat terkait kelanjutan kesepakatan ini.
"bola ada di tangan Trump" kata seorang penasihat militer untuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei kepada CNN.
Penasihat militer tersebut juga mendesak agar pihak Amerika Serikat segera melakukan pencairan aset milik Iran yang saat ini masih dibekukan.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan penilaian berbeda mengenai kondisi terkini Iran dan mengklaim adanya keberhasilan dari kebijakan yang dijalankannya.
"Kami meraih kesuksesan besar dengan Iran," kata Presiden Donald Trump kepada wartawan pada Jumat.
Ia juga menambahkan pernyataan mengenai kapasitas militer Teheran saat ini.
"mereka tidak dalam posisi untuk memiliki senjata nuklir." kata Presiden Donald Trump.
Kendati demikian, dalam sesi wawancara terpisah di Wisconsin, Donald Trump mengakui kekuatan militer Iran tidak sepenuhnya hancur.
“Itu banyak rudal, tapi tidak sebanyak saat kami pertama kali menyerang,” kata Presiden Donald Trump kepada NBC News.
Donald Trump memperkirakan bahwa saat ini Iran masih memegang sekitar 21-22% dari total rudal yang mereka miliki sebelumnya.
Ketegangan fisik juga terjadi di jalur laut setelah Komando Pusat AS melaporkan telah menembak jatuh empat drone serang sekali pakai milik Iran yang mengarah ke Selat Hormuz pada Jumat malam.
Pasukan militer Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan ke situs radar pengawasan pesisir Iran yang berada di Goruk dan Pulau Qeshm untuk mencegah serangan lanjutan.
Selain tindakan militer tersebut, pihak Amerika Serikat mengumumkan penyitaan sebuah kapal tanker minyak raksasa yang terkena sanksi dan diduga sebagai bagian dari armada hantu milik Iran.
Terkait dampak ekonomi, Donald Trump meremehkan lonjakan harga minyak mentah yang sempat menyentuh angka US$96 per barel di pasar global.
“Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk. Hari ini saya melihat harga US$96 per barel, orang-orang mengira itu akan menjadi US$300 per barel.” kata Presiden Donald Trump.
Harga minyak mentah Amerika Serikat sendiri tercatat turun hampir 3% pada Jumat dan diperdagangkan di atas US$90 per barel karena pengurangan konsumsi oleh China serta bantuan ekspor minyak mentah Amerika Serikat.
Imbas dari konflik ini juga memicu penurunan drastis lalu lintas komersial di Selat Hormuz, di mana hanya ada tiga kapal yang melintas di masing-masing arah pada Kamis berdasarkan data pelacakan Bloomberg.
Komando Pusat AS mencatat total transit kapal komersial dalam dua bulan terakhir berada di bawah 1.000 kapal, turun drastis dari kondisi normal sebelum konflik yang bisa mencapai lebih dari 100 kapal per hari.
Di dalam negeri Amerika Serikat, kebijakan luar negeri Donald Trump mendapat tekanan setelah DPR AS melakukan pemungutan suara simbolis untuk menghentikan perang, yang didukung oleh empat anggota Partai Republik dan Partai Demokrat.
Tekanan politik ini diperparah oleh lonjakan inflasi dan tingginya biaya hidup yang membebani konsumen Amerika Serikat sejak perang dimulai.
Berdasarkan jajak pendapat New York Times/Siena pada Mei, sebanyak 64% warga Amerika Serikat menyatakan bahwa keputusan untuk berperang dengan Iran adalah langkah yang salah.
Situasi keamanan di kawasan Teluk terus memburuk setelah awal pekan ini Iran meluncurkan rudal dan drone ke Kuwait dan Bahrain, yang menewaskan satu orang di bandara utama Kuwait.