Aktivis Flotila Gaza Alami Penyiksaan dan Kekerasan Seksual
Ratusan aktivis kemanusiaan dari armada Global Sumud Flotilla menuduh pasukan keamanan Israel melakukan penyiksaan fisik, pemukulan ekstrem, hingga kekerasan seksual saat mereka ditahan di fasilitas interseptasi setelah kapal bantuan menuju Gaza dicegat di perairan internasional pada awal pekan ini.
Kementerian Luar Negeri Indonesia bersama negara mitra berhasil mengamankan pembebasan sembilan warga negara Indonesia yang ikut ditahan dalam misi tersebut.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid mengapresiasi langkah cepat diplomasi tersebut dan mengutuk keras perlakuan keji yang diterima para relawan kemanusiaan selama berada di dalam tahanan otoritas Israel.
"Meskipun tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, Kementerian Luar Negeri berhasil membangun koordinasi yang efektif dengan negara-negara mitra seperti Türkiye, Mesir, dan Yordania," ujar Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR.
Hidayat mendesak agar pemerintah Indonesia memanfaatkan posisi kepemimpinannya di Dewan HAM PBB untuk menggalang kekuatan internasional demi menjatuhkan sanksi hukum yang tegas atas pelanggaran berat kemanusiaan ini.
"Perkembangan ini akan lebih bermakna jika Indonesia bekerja sama dengan negara lain untuk mengambil tindakan hukum, termasuk menjatuhkan sanksi kepada Israel karena menyinggung hak asasi manusia dan melanggar hukum internasional," tutur Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono mengonfirmasi bahwa sembilan aktivis Indonesia telah dievakuasi keluar dari Israel dan sudah tiba di Istanbul pada hari Kamis untuk proses pemulangan.
"Pemerintah Indonesia terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan kelancaran pemulangan warga negara Indonesia," kata Sugiono, Menteri Luar Negeri.
Penyiksaan sistematis ini memicu gelombang kecaman global setelah Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mengunggah video yang mengejek para aktivis saat mereka dipaksa berlutut dengan tangan terikat.
Organisasi hak asasi manusia Adalah yang berbasis di Israel mendokumentasikan luka-luka parah, patah tulang, serta penggunaan peluru karet dan alat kejut listrik terhadap para tahanan.
"Dalam 10 tahun terakhir Adalah mewakili para aktivis di flotila, ini adalah kekerasan dan serangan paling parah yang pernah kami temui," cetus Miriam Azem, Koordinator Advokasi Internasional Adalah.
Sejumlah aktivis perempuan dan pria yang telah dideportasi memberikan kesaksian langsung mengenai kebrutalan mengerikan di dalam kapal penjara dan kontainer interogasi milik otoritas Israel.
"Anda tahu mereka telah mematahkan tulang kami, tetapi mereka belum mematahkan jiwa kami," ucap Juliet Lamont, Sutradara Film dan Aktivis Australia.
Pihak berwenang dari berbagai negara seperti Kanada, Jerman, Spanyol, Italia, Prancis, dan Inggris mengutuk keras perlakuan tidak manusiawi ini serta menuntut penyelidikan hukum internasional menyeluruh.
"Pernyataan yang diajukan adalah palsu dan sepenuhnya tanpa dasar faktual," sanggup Layanan Penjara Israel (IPS).
Pihak IPS bersikeras bahwa seluruh operasional penahanan dan perlakuan terhadap para relawan asing telah dijalankan sesuai prosedur hukum medis serta aturan formal yang berlaku.
"Semua narapidana dan tahanan ditahan sesuai dengan hukum, dengan memperhatikan hak-hak dasar mereka dan di bawah pengawasan staf penjara yang profesional dan terlatih," sebut Layanan Penjara Israel (IPS).
Aktivis Australia lainnya memberikan kesaksian mengenai metode penyiksaan posisi stres yang membuat para tahanan mengalami kesakitan luar biasa hingga muntah.
"Saya sendiri diikat ritsleting dalam posisi penyiksaan dengan tangan di belakang punggung, selama 40 menit sampai saya hampir muntah karena kesakitan. Kemudian kepala saya dihempaskan ke meja selama proses imigrasi, lutut konstan ke dada, wajah, cara apa pun yang mereka bisa di sana ada tang di telinga saya menariknya ke belakang," ungkap Zack Schofield, Aktivis Australia.
Relawan dari Prancis juga mengungkapkan bahwa dirinya mengalami pelecehan seksual fisik yang traumatis selama berjam-jam interogasi.
"Saya menjadi sasaran kekerasan seksual dan perabaan," cetus Meriem Hadjal, Aktivis Prancis.
Aktivis Inggris menilai perlakuan kejam yang mereka rasakan hanyalah sebagian kecil dari penderitaan harian warga Palestina di bawah pendudukan.
"We've been beaten, tortured, systematically dehumanised, and… we have just had a little taste of what the Palestinians go through every day," kata Richard Johan Anderson, Aktivis Inggris.
Ketegangan diplomatik ini memaksa Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan teguran publik yang langka terhadap tindakan pamer kekuasaan menteri garis kerasnya demi menjaga citra politik luar negeri.
"tidak sejalan dengan nilai-nilai Israel," cetus Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.