IHSG Ambles ke Level 5.657 Dipicu Sentimen Negatif Dalam Negeri

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami guncangan hebat akibat tekanan sejumlah sentimen dari dalam negeri. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg Technoz pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 09:40 WIB, IHSG kembali jatuh sebesar 4,78% ke posisi 5.657 yang membuatnya menjadi bursa saham dengan performa terburuk di dunia.

Kemerosotan ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya, Rabu (3/6/2026), ketika indeks ditutup melemah 4,11% ke level 5.941 pada akhir sesi kedua. Pada perdagangan hari tersebut, IHSG bahkan sempat merosot hingga 5% ke level intraday terendah di 5.842 yang menandai pergerakan terburuk sejak tahun 2021.

Meskipun kondisi global sedang tertekan oleh konflik antara Iran dan Amerika Serikat, kondisi domestik dinilai memberikan beban tambahan yang signifikan bagi indeks. Terdapat lima poin utama dari dalam negeri yang memperberat posisi IHSG saat ini.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia memaparkan bahwa kecemasan terkait tata kelola serta kredibilitas kebijakan pemerintah terus meningkat. Hal ini terjadi setelah lembaga pemeringkat internasional, Fitch dan Moody's, mengubah outlook Indonesia menjadi negatif.

Situasi tersebut memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar bahwa S&P berpotensi mengambil keputusan serupa. Menurut Liza, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukanlah pertumbuhan ekonomi, melainkan kekhawatiran terhadap kualitas kelembagaan serta konsistensi dalam pengambilan keputusan.

"Yang menjadi masalah utama bukanlah pertumbuhan ekonomi itu sendiri, melainkan kekhawatiran yang semakin meningkat mengenai kualitas kelembagaan, kepastian kebijakan, dan konsistensi pengambilan keputusan," jelas Liza.

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erinda Krisnawan turut menyampaikan pandangan senada mengenai risiko ketidakpastian kebijakan ini. Dalam laporan revisinya pada 26 Maret lalu, Fitch menggarisbawahi risiko belanja pemerintah yang membebani anggaran negara.

Sementara itu, Moody's menetapkan perubahan outlook satu bulan sebelumnya dengan mempertimbangkan rendahnya prediktabilitas kebijakan. Kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu serta rencana kenaikan royalti pertambangan dinilai memperkuat ketidakpastian tersebut.

"Usulan kenaikan royalti pertambangan dan kebijakan ekspor sumber daya alam satu pintu kemudian semakin memperkuat kebisingan ketidakpastian kebijakan," kata Erinda dalam risetnya.

Pelemahan Rupiah dan Penurunan Kelas Menengah

Faktor kedua yang menekan indeks adalah depresiasi nilai tukar rupiah yang telah melewati angka 18.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi, penurunan daya beli masyarakat, serta berkurangnya daya tarik aset finansial domestik bagi investor global.

Di sisi lain, surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 menyusut tajam menjadi hanya US$90 juta akibat lonjakan impor minyak dan gas. Angka ini merupakan catatan surplus terendah sejak April 2020.

Faktor ketiga berkaitan dengan kekuatan konsumsi domestik yang mulai dipertanyakan oleh para pelaku pasar. Data terbaru menunjukkan jumlah populasi kelas menengah di Indonesia merosot dari 61,5 juta orang pada 2018 menjadi sekitar 46,6 juta orang pada 2026.

"Namun, data terbaru menunjukkan bahwa populasi kelas menengah telah menurun dari sekitar 61,5 juta orang pada tahun 2018 menjadi sekitar 46,6 juta pada 2026, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kekuatan jangka panjang mesin pertumbuhan terpenting Indonesia," tutur Liza.

Aksi Jual Investor Asing dan Komunikasi Politik

Meskipun valuasinya tergolong murah dengan price to earning ratio (P/E) di kisaran 9-11 kali, investor asing tetap melakukan aksi jual bersih (net sell). Pola ini mengindikasikan bahwa faktor valuasi yang rendah belum cukup kuat untuk memicu aliran modal masuk.

Faktor kelima yang menjadi perhatian adalah cara pembuat kebijakan merespons tekanan pasar serta mengomunikasikan prioritas ekonomi mereka. Ketidakpastian pesan dari pemerintah dinilai berisiko memperpanjang penurunan kepercayaan pasar.

"Ketidakpastian yang meningkat mengenai arah kebijakan dan pesan pemerintah berisiko memperpanjang krisis kepercayaan saat ini, meskipun kondisi makroekonomi yang mendasarinya masih jauh dari krisis keuangan yang parah," jelas Liza.

Periode Penting Tinjauan Indeks Global

Fokus pelaku pasar kini mulai beralih pada proyeksi pergerakan indeks ke depan setelah menyerap berbagai sentimen negatif makroekonomi. Dua minggu mendatang menjadi fase krusial karena adanya sejumlah agenda penting dari penyedia indeks global.

Pada tanggal 19 Juni, dijadwalkan agenda Tinjauan Aksesibilitas Pasar Global MSCI serta Tinjauan FTSE Russell Global Equity Index. Selanjutnya, tanggal 22 Juni merupakan waktu efektif untuk Rebalancing FTSE Russell, diikuti Tinjauan Klasifikasi Tahunan MSCI pada 24 Juni 2026.

Rangkaian tinjauan ini memegang peranan penting karena menjadi indikator penilaian independen bagi investor global. Poin utama yang dinilai mencakup aspek likuiditas, transparansi, aksesibilitas pasar, standar tata kelola, ketersediaan saham free float, hingga kelayakan investasi secara umum.

Di tengah tekanan yang masif, muncul analisis mengenai potensi pembalikan arah IHSG jika seluruh berita buruk telah diantisipasi oleh pasar. Selama enam bulan terakhir, pelaku pasar telah menghadapi pelemahan rupiah, aksi net sell asing, revisi outlook dari Moody's dan Fitch, serta penempatan bursa domestik sebagai salah satu pasar dengan kinerja terburuk di kawasan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author