Ketahui Penyebab Bayi Menangis Saat Tidur dan Cara Mengatasinya
Kondisi bayi menangis saat tidur terus-menerus sering kali menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua. Untuk mengatasinya dengan tepat, penyebab pasti dari situasi tersebut perlu diidentifikasi terlebih dahulu.
Dikutip dari HaiBunda, fenomena ini cukup umum terjadi, khususnya pada bayi baru lahir hingga berusia 1 tahun. Tangisan tersebut adakalanya muncul sebentar lalu berhenti sendiri, tetapi ada juga yang membuat bayi terbangun dan sulit ditenangkan kembali.
Beberapa faktor yang memicu kondisi ini meliputi rasa lapar, haus, perubahan siklus tidur, tumbuh gigi, hingga gangguan tertentu seperti night terror.
Berdasarkan informasi dari Healthline, suara tangisan bayi dapat menjadi petunjuk penting. Bayi yang menangis di malam hari akibat popok basah, lapar, kedinginan, atau sakit umumnya sulit kembali tertidur dalam waktu 1-2 menit.
Intensitas tangisan Si Kecil akan terus meningkat sebagai tanda bagi orang tua untuk segera merespons. Dalam situasi ini, upaya menjaga bayi tetap tenang dan tidak terbangun sepenuhnya sangat disarankan, tanpa memberikan rangsangan berlebih seperti menyalakan lampu terang atau bersuara keras.
1. Rasa Lapar atau Haus
Bayi baru lahir memiliki ukuran lambung yang kecil sehingga lebih cepat merasa lapar atau haus. Hal ini membuat mereka sering terbangun sambil menangis untuk menyusu di malam hari.
Menurut Medical News Today, bayi berusia 1 hingga 3 bulan masih sering terbangun pada malam hari karena lapar dan belum memiliki pola tidur yang stabil.
2. Siklus Tidur Belum Terbentuk
Berbeda dengan orang dewasa, siklus tidur bayi belum terbentuk sempurna. Mereka lebih sering berada dalam fase tidur aktif (REM sleep), yang membuat mereka mudah terbangun, bergerak, dan menangis.
Siklus tidur bayi berlangsung lebih pendek, sekitar 40–60 menit, sehingga rentan terbangun di sela-sela pergantian siklus tersebut.
3. Popok Kotor atau Basah
Popok yang sudah penuh menimbulkan rasa basah dan ketidaknyamanan bagi bayi. Kondisi ini memicu bayi menjadi mudah terbangun serta rewel selama waktu tidur.
4. Proses Tumbuh Gigi
Saat memasuki usia sekitar 4–7 bulan, sebagian bayi mulai mengalami pertumbuhan gigi. Rasa nyeri dan gatal yang muncul sering kali membuat tidur malam mereka menjadi gelisah.
5. Refleks Saat Tidur
Gerakan refleks atau tersentak bisa terjadi pada bayi dan menyebabkannya menangis saat tidur. Hal ini umumnya berlangsung pada fase tidur aktif dan termasuk kondisi normal.
6. Overstimulasi Sebelum Tidur
Aktivitas berlebihan, suara bising, cahaya terang, atau bermain berlebihan sebelum tidur dapat membuat bayi sulit rileks. Akibatnya, mereka menjadi lebih mudah terbangun dan menangis di malam hari.
7. Ketidaknyamanan pada Perut
Sistem pencernaan bayi baru lahir yang belum berkembang sempurna membuatnya rentan mengalami rasa tidak nyaman di area perut, sehingga mudah terbangun dan menangis pada malam hari.
8. Separation Anxiety
Pada usia sekitar 6–9 bulan, bayi mulai memahami keberadaan orang tua atau pengasuh di sekitarnya. Mereka dapat merasa cemas saat tidak melihat figur tersebut terdekatnya, termasuk ketika terbangun pada malam hari.
9. Kondisi Sakit
Masalah kesehatan seperti demam, kolik, infeksi telinga, atau gangguan pencernaan dapat menyebabkan bayi menangis saat tidur. Jika tangisan terdengar intens dan bayi tampak kesakitan, pemantauan dan konsultasi dokter diperlukan.
10. Kelelahan Berlebih
Bayi yang terlalu lelah justru menghadapi kesulitan untuk tidur nyenyak. Kondisi ini memicu peningkatan hormon stres sehingga bayi lebih mudah rewel dan menangis saat tidur.
Metode Mengatasi Bayi Menangis Saat Tidur
Terdapat beberapa langkah efektif yang dapat dilakukan orang tua untuk mengatasi gangguan tidur pada bayi ini.
Menerapkan Rutinitas Tidur Konsisten
Bedtime routine membantu bayi mengenali waktu istirahat. Aktivitas yang bisa dilakukan antara lain mandi air hangat, pemijatan lembut, atau membacakan cerita sebelum tidur.
Memastikan Bayi Sudah Kenyang
Pemeriksaan jadwal makan dan menyusu pada malam hari penting dilakukan. Pastikan bayi sudah cukup kenyang sebelum jam tidur agar dapat tidur lebih nyenyak dan lama.
Memeriksa Popok dan Pakaian
Pastikan popok Si Kecil dalam keadaan bersih. Hindari penggunaan pakaian yang terlalu tebal karena berisiko membuat bayi kepanasan dan tidak nyaman.
Menggendong Jika Diperlukan
Sebuah studi dalam Current Biology mengukur pengaruh fisiologis menggendong dan membaringkan bayi yang menangis. Penelitian yang dipimpin oleh Kumi Kuroda, PhD, dari RIKEN Center for Brain Science di Jepang, menunjukkan proses ini efektif menenangkan bayi dan menurunkan detak jantungnya.
Menggendong bayi sambil berjalan kaki selama 5 menit ditemukan dapat membantunya lebih cepat mengantuk dan tertidur. Namun, detak jantung bayi akan meningkat jika pengasuh berhenti berjalan, dan meletakkannya langsung di kasur setelah digendong juga berisiko membuatnya kembali rewel.
Memberikan Sentuhan Lembut
Usapan lembut pada punggung atau pelukan perlahan membantu menenangkan bayi. Berdasarkan informasi dari Johns Hopkins Medicine, membedong bayi baru lahir juga dapat memberikan rasa aman dan nyaman.
Lingkungan tidur yang tenang turut mendukung kualitas tidur. Hindari paparan suara keras serta cahaya terang menjelang waktu tidur Si Kecil.
Menghindari Overstimulasi
Batasi aktivitas berlebihan sebelum tidur dan jangan mengajak bayi bermain sampai terlalu lelah, karena hal ini memicu bayi mudah terbangun dan menangis nantinya.
Mengusap Area Perut
Menurut What to Expect, sentuhan lembut berupa usapan di area perut dapat menenangkan bayi yang rewel. Pastikan sentuhan dilakukan secara singkat agar bayi memahami waktu untuk kembali tidur.
Menerapkan Bedong yang Aman
Pada rentang usia bayi baru lahir hingga 2 bulan, bedong yang tidak terlalu ketat dapat meningkatkan kualitas tidur. Pastikan membedong dengan benar tanpa ada ujung selimut longgar yang berisiko menutupi wajah atau membuatnya kepanasan.
Mengatur Suhu Kamar
Suhu ruangan yang terlalu panas atau dingin dapat mengganggu kenyamanan tidur bayi. Idealnya, kamar tidur harus terasa cukup sejuk dan nyaman.
Melatih Kemampuan Self-Soothing
Seiring bertambahnya usia, bayi dapat mulai dilatih menenangkan dirinya sendiri saat terbangun malam hari. Orang tua bisa menunggu beberapa saat sebelum langsung menggendongnya, sambil memastikan kebutuhan dasarnya terpenuhi.
Memahami Kondisi Night Terror
Night terror merupakan gangguan tidur yang menyebabkan anak tiba-tiba menangis, berteriak, atau tampak ketakutan saat tidur, meskipun sebenarnya belum benar-benar terbangun. Kondisi ini lebih sering dialami oleh anak usia balita dibandingkan bayi.
Saat mengalami night terror, anak dapat terlihat panik, berkeringat, atau sulit ditenangkan selama beberapa menit. Walaupun tampak mengkhawatirkan, gangguan ini biasanya tidak berbahaya dan anak umumnya tidak mengingat kejadian tersebut setelah terbangun sepenuhnya.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Jika berbagai cara telah diterapkan namun penyebab bayi menangis saat tidur belum diketahui, konsultasi dengan dokter sangat disarankan. Tangisan yang tergolong berlebihan dan tidak biasa, terutama jika berlangsung selama 2-3 jam atau lebih, memerlukan pemeriksaan medis segera karena bisa menjadi indikasi kolik, refluks asam lambung (GERD), infeksi, atau alergi.
Orang tua juga harus segera memeriksakan bayi ke dokter jika muncul gejala berikut: tangisan terdengar semakin intens dan sangat sulit ditenangkan, disertai demam tinggi, bayi tampak sesak napas, muntah berulang atau diare, nafsu minum menurun, berat badan tidak bertambah, tidur sangat gelisah setiap malam, atau bayi tampak kesakitan saat disentuh maupun digendong.
Karakteristik Pola Tidur Bayi Berdasarkan Usia
Setiap rentang usia bayi memiliki pola dan jadwal tidur yang berbeda-beda.
Bayi Baru Lahir (0-1 Bulan)
Pada bulan pertama, pola tidur bayi belum dapat diprediksi dan diselingi periode bangun singkat untuk menyusu. Bayi baru lahir total tidur sekitar 16–17 jam per hari dan belum bisa membedakan waktu siang serta malam.
Bayi Usia 1-3 Bulan
Pada fase ini, ritme sirkadian mulai berkembang. Sebagian bayi mulai memiliki pola tidur yang lebih teratur, walaupun masih sering terbangun di malam hari karena lapar atau merengek dalam tidurnya.
Bayi Usia 3-7 Bulan
Antara usia 3 hingga 7 bulan, beberapa bayi mulai menunjukkan kemampuan untuk tidur lebih lama sepanjang malam. Namun, fase sleep regression dan proses tumbuh gigi sering kali mengganggu kenyamanan tidur mereka.
Bayi Usia 7-12 Bulan
Sebagian besar bayi sudah mampu tidur sepanjang malam saat menginjak usia 9 bulan. Meski demikian, faktor kecemasan berpisah (separation anxiety) dan pertumbuhan gigi tetap dapat memicu tangisan di malam hari.
Balita (12 Bulan ke Atas)
Anak usia balita umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 12–15 jam per hari, termasuk tidur siang. Perubahan rutinitas, kondisi sakit, atau lonjakan perkembangan (growth spurt) dapat menyebabkan anak kembali sering menangis saat tidur.