Rupiah Menguat ke Rp17.838 per Dolar AS Terbantu Inflasi
Nilai tukar rupiah melonjak sebesar 0,2 persen ke posisi Rp17.838 per dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026).
Lonjakan tersebut menempatkan rupiah di posisi teratas mata uang kawasan Asia yang menguat, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz.
Apresiasi mata uang Garuda terjadi saat indeks dolar Amerika Serikat melemah 0,13 persen ke posisi 99,07, bersamaan dengan merosotnya harga minyak mentah dunia sebesar 1,62 persen ke level US$93,44 per barel.
Kondisi harga minyak dunia yang melandai turut mendorong dolar Singapura, peso Filipina, yuan China, baht Thailand, dan yuan offshore bergerak di zona hijau.
Penguatan rupiah di sesi sore dipicu oleh pengumuman laju inflasi domestik yang naik mencapai 3,08 persen, melampaui prediksi awal para pelaku pasar di angka 2,94 persen.
"Ke depan, kami memperkirakan inflasi akan menembus batas atas target BI pada Juni, dan berpotensi naik lebih tinggi lagi apabila gangguan pasokan energi dari Timur Tengah terus berlanjut. Prospek tersebut, ditambah dengan kondisi rupiah yang masih rentan terhadap meningkatnya aversi risiko global, kemungkinan akan mendorong kenaikan suku bunga acuan kembali pada akhir bulan ini," sebut Tamara Henderson, Ekonom Bloomberg Economics.