Banyak Pekerja Gen Z di AS Dipecat, Ahli Soroti Kesenjangan Nilai
Generasi Z (Gen Z) kini mulai berbondong-bondong memasuki pasar tenaga kerja. Namun, fenomena mengejutkan terjadi di Amerika Serikat karena banyak pekerja muda dari generasi ini yang dipecat tidak lama setelah diterima bekerja.
Dilansir dari Detikcom, Profesor di New York University (NYU), Suzy Welch, mengungkapkan bahwa situasi ini dipicu oleh kesenjangan ekspektasi antara Gen Z dan pihak pemberi kerja. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh penetrasi kecerdasan buatan atau AI yang merebut berbagai posisi pekerjaan.
Banyak lulusan baru di AS sebenarnya mengincar sektor produksi yang linier dengan gelar akademik mereka. Sayangnya, keinginan besar mereka harus berbenturan dengan kebijakan efisiensi perusahaan yang mulai mengadopsi teknologi AI.
"AI mungkin dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan tingkat pemula ini, sehingga mereka bergerak lebih lambat (dalam mendapatkan kerja)," ujar Welch, dikutip dari USA Today.
Melalui perangkat tes The Values Bridge, Welch menghimpun data dari survei mandiri yang dilakukannya. Riset tersebut membuktikan adanya jurang pemisah yang besar antara pandangan Gen Z dan perusahaan dalam memaknai nilai-nilai tertentu.
Data survei menunjukkan hanya dua persen Gen Z yang memenuhi kriteria kebutuhan pemberi kerja. Sementara itu, 98 persen sisanya dinilai tidak memiliki kompetensi yang dicari oleh korporasi.
Pihak manajemen mendambakan karyawan yang fokus pada pencapaian tertinggi dan dedikasi penuh terhadap tugas. Sebaliknya, para pekerja muda cenderung mengutamakan perawatan diri serta kebebasan berekspresi secara individual.
Generasi baru ini enggan mengadopsi prinsip kerja konvensional yang menuntut lembur demi karier masa depan. Mereka berkaca pada generasi pendahulu yang mengalami kelelahan kronis atau kehilangan pekerjaan di usia paruh baya.
Bagi pekerja muda, prinsip tolong-menolong antar-rekan kerja adalah hal yang mulia. Sementara bagi korporasi, ambisi kompetitif untuk memenangkan persaingan bisnis menjadi poin penilaian utama.
"Itu adalah ketidaksesuaian nilai yang sangat besar, dan itulah (kesenjangan) yang kita lihat (sedang) terjadi," jelas Welch.
Pengaruh Sistem Kerja Jarak Jauh
Keinginan kuat generasi muda untuk bekerja dari rumah atau remote turut memperlebar jarak ekspektasi dengan manajemen. Berdasarkan survei Welch terhadap para mahasiswanya, sekitar 80 persen responden lebih memilih sistem kerja jarak jauh.
Minimnya interaksi fisik di lingkungan kantor membuat pekerja muda kehilangan peluang emas mengasah keterampilan sosial. Mereka melewatkan proses belajar merespons dinamika emosional dan komunikasi langsung dengan rekan sejawat.
Kemampuan interpersonal ini sebenarnya menjadi faktor krusial dalam menunjang kenaikan jabatan. Namun, mayoritas pekerja muda justru menganggap kewajiban bekerja di kantor sebagai aturan kuno yang tidak lagi relevan.
Respons Strategis Korporasi Besar
Menghadapi ketidakselarasan ini, sejumlah lembaga keuangan terkemuka seperti JP Morgan dan Goldman Sachs mulai mengubah taktik rekrutmen. Mereka kini menerapkan seleksi ketat berbasis keselarasan nilai sejak tahap awal.
Menemukan kandidat spesifik dari kelompok dua persen yang kompeten kini menjadi prioritas utama manajemen. Perusahaan ingin meminimalkan risiko miskomunikasi atau rendahnya produktivitas kerja di kemudian hari.
Welch menyarankan bagi kelompok Gen Z yang ingin sukses di dunia profesional untuk mulai menerima konsekuensi dari pilihan hidup mereka. Jika tetap memprioritaskan fleksibilitas pribadi, mereka harus siap menghadapi keterbatasan jenjang karier dan pendapatan di sektor industri konvensional.