Militer Amerika Serikat dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz

Share

Ketegangan militer kembali pecah di Selat Hormuz setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap posisi Iran pada Rabu, 27 Mei 2026 waktu setempat, yang kemudian memicu aksi balasan dari Teheran di tengah proses diplomasi yang sedang berjalan.

Aksi militer Washington dipicu oleh tindakan Teheran yang dilaporkan mengirimkan empat pesawat tanpa awak atau drone serang satu arah menuju kapal militer Amerika Serikat dan kapal komersial internasional. Dilansir dari The Wall Street Journal, jet tempur F/A-18, F-16, dan F-35 milik Amerika Serikat langsung melumpuhkan seluruh drone tersebut di udara.

Pejabat pemerintah Amerika Serikat menyatakan bahwa jet tempur F/A-18 juga menghantam satu stasiun kendali darat di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas, Iran selatan, guna menghentikan peluncuran drone kelima. Operasi ini diklaim bersifat terbatas serta defensif untuk melindungi jalur pelayaran komersial tanpa berniat merusak kesepakatan gencatan senjata.

Insiden tersebut dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa, namun wilayah Kuwait ikut menjadi sasaran serangan rudal dan drone pada Kamis pagi, 28 Mei 2026, yang segera dicegat oleh militer setempat. Gelombang konflik ini terjadi setelah kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan sejak April 2026, yang terus diperpanjang hingga Mei 2026.

Proses negosiasi yang dimediasi Gedung Putih sebenarnya bertujuan untuk membuka kembali jalur perdagangan Selat Hormuz, melonggarkan sanksi minyak Iran, membatasi program nuklir Teheran, serta menurunkan harga minyak mentah dunia. Presiden Donald Trump mengisyaratkan dalam rapat kabinet pada Rabu pagi bahwa kesepakatan tersebut tetap menjadi prioritas utama pemerintahannya.

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, menjelaskan bahwa proses diplomasi masih membutuhkan waktu yang cukup lama karena terdapat banyak detail krusial yang belum disepakati oleh kedua belah pihak.

"Diplomasi selalu menjadi pilihan pertama," kata Rubio, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.

Sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat, Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC melancarkan serangan balasan ke pangkalan udara militer Amerika Serikat di dekat Bandara Bandar Abbas pada Kamis, 28 Mei 2026. Stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, melaporkan bahwa IRGC siap membalas setiap agresi militer yang terjadi di masa depan.

Di tengah situasi yang kembali memanas, Pemerintah China mendesak Amerika Serikat untuk tetap mematuhi kesepakatan gencatan senjata dan menyelesaikan perselisihan dengan Iran melalui dialog damai. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa Beijing terus terlibat aktif dalam mengawal pembahasan isu nuklir Iran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author