Wapres Gibran Tinjau Bencana Gempa Bumi di Nusa Tenggara Timur
Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau langsung penanganan warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur pada Kamis (20/8/2026) hingga Jumat (21/8/2026). Peninjauan tersebut dilakukan guna memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi serta percepatan perbaikan fasilitas publik yang rusak.
Gibran mengawali kunjungan kerja ke Kabupaten Sikka pada Kamis bersama rombongan, termasuk enam mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Bencana gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda NTT sejak Sabtu (15/8/2026) dilaporkan merusak ribuan bangunan dan merenggut puluhan korban jiwa.
Di Kabupaten Sikka, penanganan bencana mencakup pengecekan posko pengungsian di SD Inpres LXXVI Wairklau, Pelabuhan Laurentius Say, Gereja Santa Maria Magdalena Nangahure, serta RSUD TC Hillers. Wapres membagikan bantuan logistik seperti makanan, peralatan bayi, buku, hingga mainan anak-anak saat menemui pengungsi.
Pemerintah pusat menekankan bahwa penyaluran bantuan harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk warga yang berada di area terisolasi.
"Dalam penanganan darurat, keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan mendesak harus menjadi prioritas utama. Tidak boleh ada satu pun warga yang tidak tersentuh bantuan, termasuk mereka yang berada di wilayah sulit diakses seperti permukiman pegunungan," tegas Gibran.
Koordinasi antara dinas terkait dan aparat daerah diminta berjalan responsif agar setiap kendala teknis di lapangan dapat segera teratasi secara terukur.
"Setiap kendala harus segera diidentifikasi dan diselesaikan, dengan penanggung jawab dan target waktu yang jelas. Seluruh persoalan dan kendala yang ditemukan di lapangan akan saya laporkan kepada Bapak Presiden," ucap Gibran.
Apresiasi juga disampaikan kepada jajaran petugas dan relawan yang bersiaga sejak awal guncangan gempa terjadi di kawasan tersebut.
"Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh jajaran yang sejak hari pertama kejadian telah turun ke lapangan membantu masyarakat," kata dia.
Saat berdialog dengan para korban di posko pengungsian, Wapres memantau langsung pemenuhan asupan makanan untuk anak-anak pengungsi.
"Anaknya sudah makan?" tanya Gibran.
Wapres turut memastikan tidak ada anak-anak yang mengalami luka fisik akibat dampak gempa.
"Anaknya enggak ada luka atau apa, kan? Luka enggak? Aman, ya?" lanjutnya memastikan.
Penyerahan bantuan logistik harian juga diberikan langsung kepada para ibu yang mendampingi balita di posko.
"Bu, ini peralatan bayi, ya," ujar Gibran.
Seorang penerima bantuan menyampaikan rasa terima kasih atas pasokan kebutuhan bayi tersebut.
"Makasih, Pak," jawab ibu tersebut.
Saat memantau kondisi RSUD TC Hillers Sikka, Wapres mengkritisi kelayakan ruang ICU darurat yang dinilai kurang memadai bagi pasien kritis.
"Enggak proper. Ventilatornya rusak," kata Gibran.
Pemerintah berencana melakukan peningkatan mutu fasilitas serta merujuk pasien kritis ke rumah sakit dengan peralatan yang lebih memadai.
"Kita upgrade sekalian," kata Gibran memberi instruksi.
Kunjungan ke rumah sakit lapangan di RSUD TC Hillers diwarnai momen interaksi saat Wapres menggendong seorang bayi perempuan yang lahir di tenda darurat.
"Kapan (lahir)?" tanya Gibran ke ibu yang sedang berbaring di rumah sakit lapangan.
Ibu dari bayi tersebut menjelaskan waktu persalinannya di fasilitas darurat.
"Tadi pagi," jawab ibu tersebut.
Pertanyaan berlanjut mengenai urutan kelahiran anak dalam keluarga pengungsi tersebut.
"Anak ke?" tanya Gibran lagi.
Orang tua bayi mengonfirmasi urutan kelahiran sang anak.
"Dua," jawabnya.
Melihat bayi tersebut tetap tenang, Wapres memberikan pujian atas kondisi kesehatan sang bayi di dalam tenda.
"Takut nangis. Rambutnya tebal ini. Masih ada bayi lagi?" ucap Gibran.
Petugas medis setempat mengonfirmasi keberadaan pasien bayi lainnya di posko perawatan.
"Masih" jawab tenaga kesehatan setempat.
Mengenai penamaan bayi, Wapres menyarankan agar orang tua menentukan sendiri nama terbaik bagi anaknya.
"Kasih nama sendiri ya. Tahun lalu ada yang dikasih nama Gibran, yang gunung meletus," ujar Gibran lagi.
Wapres juga memastikan kebutuhan nutrisi bayi dan kelancaran pemberian ASI di lokasi pengungsian.
"Kayaknya laper ini. Laper ya? ASI-nya lancar?" ujar Gibran.
Selain fasilitas kesehatan, permasalahan administrasi kepesertaan jaminan kesehatan warga turut ditindaklanjuti secara langsung.
"BPJS-nya kenapa? Bermasalah? Oke tidak apa-apa.
Ada kartunya? Nanti biar ajudan saya yang urus. BPJS-nya bermasalah tidak apa-apa nanti biar kami yang urus," ucap Gibran ke seorang pasien.
Pada Jumat (21/8/2026), kegiatan dilanjutkan ke Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Menghadapi medan sulit di Kampung Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Wapres menggunakan sepeda motor untuk memantau pemukiman warga.
Di Posko Golo Cenggo, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Wapres menginstruksikan pendataan menyeluruh, termasuk bagi warga yang memilih mengungsi secara mandiri.
"Saya perintahkan untuk segera didistribusikan, terutama yang pengungsi mandiri," ujar Wapres Gibran Rakabuming.
Masyarakat diminta mengajak kerabat yang mengungsi terpisah agar bergabung ke posko utama demi kemudahan akses logistik dan medis.
"Nanti bilang ke teman-temannya lebih baik menyatu di sini. Makan, pengobatan semua ada di sini," kata Wapres menambahkan.
Dalam kesempatan dialog bersama pengungsi di tenda perawatan, Wapres memastikan ketersediaan konsumsi harian pasien.
"Sakitnya apa? Bapak dan ibu sudah dapat makan kan?" tanya Wapres.
Saat bertatap muka dengan warga bernama Aisyah di Manggarai Timur, Wapres mengonfirmasi pendataan kerusakan rumah warga.
"Sudah didata?" tanya Gibran.
Warga mengonfirmasi bahwa petugas telah mencatat kerusakan tempat tinggal mereka.
"Sudah," jawab Aisyah.
Wapres meminta masyarakat bersabar tinggal sementara di posko darurat selama proses penanganan berlangsung.
"Tinggal di posko dulu sementara, ya, Bu," kata Gibran.
Infrastruktur vital yang hancur akibat gempa di wilayah Manggarai Timur diprioritaskan untuk dibangun kembali secara menyeluruh.
"Rumah Sakit Darurat itu penting, tadi ada lagi perbaikan irigasi, rumah ibadah, sekolah juga, dan itu harus dibangun dari nol," kata Gibran.
Berdasarkan data penanganan bencana, dampak gempa di Kabupaten Sikka mencatat 75 korban jiwa. Sementara di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 24 orang meninggal dunia, 19.803 jiwa mengungsi, 9.647 unit rumah rusak parah, serta 1.034 fasilitas umum dan pemerintah mengalami kerusakan.