Phyleen Rilis Buku Panduan Komunikasi bagi Penyintas Kanker
Seorang mantan pasien kanker bernama Phyleen meluncurkan buku berjudul Kank'r nog bellen? di Belanda pada Rabu (20/5/2026) untuk membantu mengatasi kecanggangan komunikasi antara penderita kanker dan lingkungan sekitar mereka.
Kisah ini bermula saat Phyleen yang baru saja tinggal bersama kekasihnya, Joost, serta memulai pekerjaan baru, mengabaikan gejala kelelahan, penurunan berat badan, berkurangnya nafsu makan, dan batuk yang dianggapnya hanya flu biasa.
"I had overal een verklaring voor" kata Phyleen saat menceritakan masa-masa awal sebelum ia menyadari penyakitnya, hingga akhirnya ia terbangun dengan benjolan besar di lehernya.
Pemeriksaan medis oleh dokter spesialis penyakit dalam kemudian memastikan bahwa ia mengidap hodgkin, sebuah bentuk kanker kelenjar getah bening, setelah melalui serangkaian pemindaian, biopsi, dan tes darah.
"Mijn vriend en collega's vonden dat ik daarmee naar de huisarts moest. Ik zei: 'Prima, morgen is mijn vrije dag, dan ga ik wel even'." kenang Phyleen mengenai dorongan dari orang terdekatnya untuk memeriksakan diri.
Kondisi gejala yang dialaminya langsung dicocokkan oleh dokter sebelum diagnosis akhir keluar dua minggu kemudian.
"Toen de huisarts zei: 'Het zit los, dus het is geen kanker', dacht ik: hè, was dat een optie?" tutur Phyleen saat pertama kali menyadari risiko penyakitnya.
Setelah dirujuk ke internis, seluruh daftar gejala seperti keringat malam dan batuk langsung terkonfirmasi.
"Ik denk dat het hodgkin is." ucap dokter spesialis penyakit dalam yang mendiagnosisnya pertama kali.
Saat menerima kabar tersebut, fokus pikiran Phyleen justru tertuju pada keluarganya yang sedang menunggu di rumah.
"Op dat moment dacht ik vooral aan mijn moeder, die zat samen met mijn vader en stiefvader bij ons thuis op ons te wachten. Ik dacht: hoelang duurt dit gesprek nog? Ik moet wel vlot naar huis, anders gaat mijn moeder van alles invullen. Daar was ik meer mee bezig dan met de diagnose." jelas Phyleen.
Meskipun situasi terasa berat, dokter memberikan dorongan moral bahwa usianya yang muda dan kondisi fisiknya yang bugar akan membantu proses pemulihan.
"Dit wordt klote, maar er is licht aan het eind van de tunnel. Als je dan toch kanker moet krijgen, dan dit, want je bent jong en fit en je komt er wel doorheen." kata dokter spesialis tersebut untuk menenangkannya.
Kanker tersebut ternyata menyebar lebih luas dari perkiraan awal, sehingga Phyleen dihadapkan pada pilihan dua jenis kemoterapi.
"Ik koos voor de laatste. Acht maanden chemo's, waarvan ik me minder naar zou voelen en minder bijwerkingen zou hebben dan van die andere." ujar Phyleen memilih metode pengobatan yang lebih lama namun lebih ringan.
Selama menjalani masa pengobatan, Phyleen dikejutkan oleh beragam reaksi dari orang-orang di sekitarnya, mulai dari surat kemarahan atas takdir hingga komentar menghakimi tentang kebiasaan merokoknya di masa lalu.
"Dit kan ik er even niet bij hebben." tulis seorang temannya dalam sebuah kartu yang dikirimkan kepadanya.
Ia menceritakan bahwa sebagian besar orang sebenarnya bersikap sangat baik, meski ada beberapa tanggangan yang kurang sensitif.
"Over het algemeen waren mensen heel fijn en prettig hoor" tutur Phyleen.
Ia juga mengingat momen saat seseorang memberikan empat halaman kertas tulisan tangan yang mengekspresikan kemarahan terhadap situasi yang menimpanya.
"Ik ga ervan uit dat alles goedkomt, ervan uitgaande dat je nu ook met dat vieze roken bent gestopt." kata orang lain yang dinilainya memberikan penghakiman yang tidak pada tempatnya.
Phyleen memahami bahwa lingkungan sekitarnya sering kali merasa bingung dan takut salah bicara, bahkan seorang teman kuliahnya sempat mengurung surat selama tiga minggu karena ketakutan tersebut.
"Maar wat ik wel fijn vond? Opmerkingen als 'wat klote', 'wat heftig' of: 'Ik weet tidak wat ik moet zeggen.' Eigenlijk is alles beter dan helemaal niets, zelfs een lullige of onhandige opmerking." ungkap Phyleen mengenai ucapan yang meringankan bebannya.
Pengalaman canggung ini ternyata juga ia alami sendiri secara interpersonal ketika seorang tetangganya meninggal dunia beberapa tahun kemudian.
"Maar ik had een buurmeisje dat is overleden, en twee weken lang dook ik weg als ik haar moeder op straat tegenkwam. Bang om iets verkeerd te zeggen waarmee ik haar pijn deed, terwijl ze al pijn had. Maar dat is natuurlijk het stomste wat je kunt doen." aku Phyleen.
Buku yang ditulisnya setelah 11 tahun berlalu ini lahir dari pengamatan mendalam terhadap kepasrahan dan kebingungan teman-temannya yang ingin membantu tetapi tidak tahu caranya.
"Als er iets is wat ik kan doen, laat het me weten" ucap teman-temannya saat itu, yang sering kali dijawab Phyleen dengan kebingungan.
Banyak pula kerabat yang menawarkan diri untuk menemani sesi kemoterapi hanya demi menyenangkan hati satu sama lain tanpa komunikasi yang jujur.
"Het was een worsteling van hoe kunnen jullie er voor mij zijn zodat ik me ook echt geholpen voel, en jullie je minder machteloos voelen?" kata Phyleen mengenai latar belakang penyusunan buku panduan tersebut.