Kebakaran Hutan Parah Terjadi di Kalimantan Selatan 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) parah terjadi di Kalimantan Selatan pada Agustus 2026, dengan luas lahan terbakar sekitar 572 kilometer persegi, menurut pantauan satelit Google Maps.
Kondisi ini menyebabkan asap pekat menyelimuti langit dan menurunkan kualitas udara yang mengganggu aktivitas masyarakat. BNPB menyatakan tim satgas penanganan karhutla terus berupaya memadamkan api dengan layanan udara dan darat.
Sejarah karhutla besar di Indonesia telah terjadi berkali-kali, terutama di Kalimantan dan Sumatra. Kebakaran terbesar pertama tercatat di Kalimantan Timur pada 1982-1983, yang menghanguskan 3,2 juta hektare lahan dan menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US$9 miliar, menurut World Resources Institute.
Peneliti dari Fakultas Kehutanan UGM menyebut karhutla merupakan bencana ekologis berulang yang dampaknya meluas hingga negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Karhutla 2015 menjadi salah satu yang terparah dengan luas area terbakar mencapai 2,6 juta hektare dan menimbulkan ribuan korban ISPA.
Menurut studi UGM, sebagian besar karhutla dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih marak dilakukan meski membawa dampak negatif sistemik bagi ekonomi dan lingkungan.
Kondisi kemarau panjang dan pengeringan lahan gambut melalui kanalisasi memperparah risiko karhutla. Kebakaran di lahan gambut sangat berbahaya karena dapat terjadi di bawah permukaan tanah dan sulit dipadamkan.
Deforestasi dan konversi lahan juga memperburuk kerentanan hutan terhadap kebakaran karena mengganggu mikroklimat setempat. Fenomena El Nino memperpanjang musim kemarau dan mempercepat penyebaran titik api.
Dampak karhutla meliputi kerusakan ekosistem, kepunahan keanekaragaman hayati, lonjakan emisi karbon, gangguan kesehatan akibat polusi asap, dan kerugian ekonomi di berbagai sektor, termasuk pertanian dan transportasi.
Peneliti UGM menegaskan pentingnya pendekatan jangka panjang dalam pengendalian karhutla yang tidak hanya fokus pada pemadaman, melainkan juga perbaikan sosial-ekonomi masyarakat dan penguatan tata kelola lahan.
Beberapa artis Indonesia juga menyoroti kondisi karhutla di Kalimantan dengan mengunggah doa dan informasi untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap bencana ini.