Kebakaran Hutan Kalimantan Meluas Hingga Meliburkan Sekolah Sarawak
Eskalasi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat memicu penutupan enam sekolah di Sarawak, Malaysia. Fenomena anomali iklim El Niño kategori kuat mendorong lonjakan titik panas hingga memicu polusi asap lintas batas negara pada pertengahan Agustus 2026.
Data APIMS Malaysia mencatat Indeks Pencemaran Udara di Tebedu melampaui angka 200 pada 12 Agustus, yang memaksa berjalannya pembelajaran daring. Lembaga pemantau IQAir bahkan menempatkan Kota Kuching di posisi pertama kota paling berpolusi di dunia pada 11 Agustus.
Di dalam negeri, Pemerintah Kota Pontianak meliburkan aktivitas sekolah secara tidak terbatas akibat paparan asap. Badan Nasional Penanggulangan Bencana memproyeksikan puncak masa kebakaran terjadi pada Agustus hingga September di enam provinsi prioritas pemadaman area gambut.
Kerusakan terparah dialami Kalimantan Barat dengan catatan resmi lahan terbakar mencapai 28.680 hektar per 9 Agustus. Angka ini menyumbang lebih dari separuh total akumulasi kerusakan lahan nasional, meskipun estimasi LSM Madani Berkelanjutan menunjukkan potensi area terbakar mencapai 50.558 hektar.
Analisis spasial mencatat peningkatan luas lahan terbakar hingga delapan kali lipat dari Juni ke Juli. Platform FireWatch mengonfirmasi ditemukannya lebih dari 154.000 titik panas yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia hingga pertengahan Agustus.
Ancaman kebakaran turut mendekati pusat rehabilitasi YIARI Ketapang yang menampung lebih dari 60 individu orangutan Kalimantan. Kobaran api sempat terdeteksi mendekati area fasilitas tersebut sebelum berhasil dipadamkan.
Kondisi darurat tersebut disampaikan langsung oleh manajemen pusat rehabilitasi melalui akun media sosial resmi mereka.
"Api kini sangat dekat dengan pusat rehabilitasi orangutan, dan kami khawatir angin akan membuat api semakin meluas," kata YIARI.
Petugas akhirnya berhasil memadamkan kobaran api utama pada 12 Agustus dini hari. Selain fasilitas rehabilitasi, ancaman titik panas juga terdeteksi mendekati lanskap Hutan Sungai Putri yang menjadi habitat ribuan orangutan liar.
Dampak karhutla juga menjangkau kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Pulau Jawa. Kebakaran seluas 899 hektar lanskap savana memicu satwa liar seperti kera ekor panjang turun ke area jalanan untuk mencari sumber makanan.
Penjelasan mengenai dampak kerusakan lingkungan tersebut disampaikan oleh pihak otoritas pengelola kawasan konservasi.
"Kebakaran tersebut tidak berdampak langsung pada satwa liar karena sebagian besar area yang terbakar adalah lanskap savana taman nasional," ujar Rudijanta Tjahja Nugraha, Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Sebagai langkah penanganan, BNPB menurunkan 48.000 personel gabungan serta 35 armada udara untuk rekayasa cuaca dan water bombing. Namun, efektivitas penanganan dipertanyakan menyusul penurunan anggaran BNPB menjadi Rp491 miliar pada tahun ini akibat pengalihan dana ke program prioritas lain.
Tanggapan resmi disampaikan oleh pemerintah pusat untuk menepis kekhawatiran masyarakat terkait ketersediaan dana penanggulangan bencana.
Menanggapi kekhawatiran publik, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa komitmen negara tidak akan surut dalam menangani kebakaran hutan.
Keterbatasan alokasi dana juga dialami tingkat daerah seperti Provinsi Riau. Lembaga FITRA Riau mencatat anggaran penanganan karhutla daerah tersebut hanya dijatah sebesar Rp3,67 miliar untuk tahun anggaran 2026.