BRIN Uji Ketahanan Rumah Modular Tahan Gempa di NTT
Tiga prototipe rumah tahan gempa yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Dusun Rangko, Desa Tanjung Boleng, Manggarai Barat, NTT, tetap berdiri kokoh setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026, menurut laporan dari Detikcom.
Pemantauan pasca gempa menunjukkan tidak ada retak struktural pada dinding, kolom, maupun fondasi ketiga rumah tersebut. Kerusakan hanya bersifat kosmetik, seperti keramik kamar mandi yang terlepas akibat guncangan. Sebaliknya, fasilitas di dekat lokasi, yaitu SD Rangko, mengalami kerusakan struktural.
Prototipe rumah ini dibangun pada 2021-2022 sebagai kelanjutan pengembangan teknologi konstruksi tahan gempa yang sebelumnya dirintis BPPT dan dilanjutkan oleh BRIN setelah integrasi lembaga riset. Menurut perekayasa ahli muda BRIN, Vian Maranta Haryanto, rumah tersebut dirancang khusus untuk wilayah rawan bencana seperti NTT.
"Hasil ini membuktikan bahwa desain dan metode konstruksi yang kami terapkan mampu melindungi struktur bangunan, dan yang terpenting, melindungi keselamatan penghuninya, bahkan saat diguncang gempa sebesar ini," ujar Vian, dikutip dari BRIN pada 19 Agustus 2026.
Meski kondisi struktur tetap baik, BRIN akan melakukan pengujian lebih lanjut dengan metode siklik sesuai standar SNI 3966:2012 di laboratorium Pusat Riset Kekuatan Struktur untuk validasi teknis.
"Gempa besar yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menjadi ujian lapangan bagi teknologi tersebut," tambah Vian.
Performa ketiga rumah prototipe ini menjadi bahan evaluasi penting dalam pengembangan rumah modular tahan gempa yang telah dilakukan BRIN sejak 2019. Hasil evaluasi nantinya akan menjadi masukan dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
Pusat Riset Komposit dan Biomaterial BRIN mendorong pemerintah pusat dan daerah mengadopsi standar konstruksi tahan gempa untuk percepatan pemulihan rumah terdampak. Model serupa juga diusulkan direplikasi secara luas di daerah rawan gempa lainnya.
Pengembangan teknologi ini telah diterapkan mulai 2019 di Kabupaten Tangerang, rumah dua lantai di Kabupaten Lebak pada 2021, dan tiga rumah di NTT akhir 2021. BRIN juga menyempurnakan konstruksi, termasuk penambahan teknologi rubber bearing seismic pada generasi kedua rumah modular.
"Rubber bearing seismic bekerja dengan memisahkan struktur bagian bawah dan atas bangunan. Ketika terjadi gaya geser akibat gempa, komponen tersebut dirancang untuk membantu menahan gaya geser sehingga dampak guncangan yang diterima struktur bangunan dapat dikurangi," jelas Vian.