Dunia Kerja Pilih Lulusan Humaniora Ketimbang Ahli AI
Kecenderungan perusahaan di Amerika Serikat dalam merekrut tenaga kerja mulai bergeser dengan memprioritaskan kandidat lulusan bidang humaniora yang menguasai kemampuan berpikir kritis dibandingkan lulusan bidang STEM yang terbiasa mengandalkan kecerdasan buatan (AI), dilansir dari Detikcom.
Ketergantungan yang berlebihan pada teknologi AI dinilai berpotensi menjadi bumerang bagi keterampilan berpikir para pelamar kerja. Sebuah perusahaan keuangan di AS bahkan secara terbuka menghindari kandidat yang terlalu bergantung pada AI demi mendapatkan kualifikasi analisis yang lebih mendalam.
"Yang kami inginkan adalah berpikir kritis, bukan hanya AI," kata sosok profesional di bidang keuangan tersebut.
Fenomena ini sejalan dengan ancaman penurunan kualitas akademis di tingkat perguruan tinggi. Banyak mahasiswa terancam lulus tanpa menguasai keterampilan mendasar akibat ketergantungan teknologi modern tersebut.
"Bakal ada begitu banyak mahasiswa yang lulus dari universitas dengan mengantongi gelar dan memasuki dunia kerja, tetapi pada dasarnya mereka 'buta huruf'," kata Profesor etika Cal State Chico, Troy Jollimore.
Meskipun efisiensi literasi AI terus digaungkan, kebutuhan industri nyata masih menuntut kapabilitas literasi konvensional. Penggunaan AI juga terbukti belum memberikan lonjakan signifikan terhadap efisiensi kerja operasional.
Penelitian dari American Psychological Association (APA) menegaskan bahwa efektivitas penggunaan AI sangat ditentukan oleh kecakapan interaksi penggunanya. AI tidak dirancang untuk menggantikan total peran kognitif manusia.
"Persoalan utamanya bukan pada apakah AI digunakan, melainkan bagaimana AI tersebut digunakan. Perbedaannya tidak terlalu terletak pada teknologinya itu sendiri, melainkan pada penggunanya," kata Profesor Madya MIT, Jackson G Lu.
Sistem kecerdasan buatan saat ini hanya mampu mengolah serta meramu kembali data yang sudah ada. Teknologi tersebut tidak dibekali kemampuan untuk merumuskan terobosan orisinal saat menghadapi persoalan baru.
"Tantangan manusia saat ini adalah bagaimana memanfaatkan AI untuk meningkatkan efisiensi tanpa mengikis keterampilan manusia yang menumbuhkan kompetensi, otonomi, dan inovasi," kata Profesor ilmu psikologi Purdue University, Brooke Macnamara.