Ekonom Perdebatkan Urgensi Kenaikan BI Rate akibat Pelemahan Rupiah
Perbedaan pandangan muncul di kalangan ekonom mengenai arah kebijakan suku bunga acuan menjelang pengumuman keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada Rabu (20/5).
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bank sentral memiliki peluang besar untuk mengerek BI Rate sebesar 25 basis poin demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus tertekan.
“Menurut saya, peluang paling besar untuk RDG BI sudah bergeser dari sekadar mempertahankan suku bunga menjadi menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke 5,00 persen,” kata Josua saat dihubungi kumparan, Rabu (20/5).
Langkah pengetatan moneter tersebut dinilai perlu diambil karena mata uang Garuda telah menembus kisaran Rp17.700 per dolar AS. Di sisi lain, BI juga telah menggelontorkan cadangan devisa dalam jumlah besar untuk melakukan intervensi pasar.
“BI perlu mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 5,00 persen karena rupiah telah menyentuh sekitar Rp 17.700 per dolar AS dan BI sudah menggunakan lebih dari USD 10 miliar cadangan devisa dalam empat bulan terakhir untuk stabilisasi rupiah,” jelas Josua.
Ia menambahkan bahwa risiko depresiasi kurs berpotensi memicu lonjakan harga barang impor serta biaya produksi domestik. Kegagalan menaikkan tingkat bunga dikhawatirkan bakal direspon negatif oleh pelaku pasar keuangan.
“Jika BI hanya mengandalkan intervensi valas, SRBI, DNDF, dan operasi moneter tanpa menaikkan suku bunga, pasar bisa menilai bahwa respons kebijakan belum cukup kuat,” ungkap Josua.
Kendati demikian, Josua tidak menampik bahwa opsi untuk mempertahankan BI Rate pada level 4,75 persen masih tetap terbuka. Langkah menahan suku bunga menjadi pilihan logis jika otoritas moneter ingin menghindarkan sektor riil dari beban pembiayaan yang lebih berat.
“Dalam kondisi seperti ini, mempertahankan suku bunga tanpa sinyal yang sangat kuat berisiko dianggap kurang meyakinkan oleh pasar,” ucap Josua.
Lebih lanjut, kenaikan giro wajib maupun suku bunga acuan dipandang sebagai pesan penguatan kredibilitas otoritas moneter. Instrumen tersebut menjadi sinyal keseriusan bank sentral dalam mengelola ekspektasi pasar di tengah tingginya ketidakpastian global.
“Jika BI menaikkan suku bunga, pesannya adalah menjaga kredibilitas rupiah terlebih dahulu. Jika BI tetap menahan suku bunga, BI harus menyampaikan pesan yang sangat tegas bahwa kenaikan suku bunga tetap terbuka jika rupiah terus melemah, sambil memperkuat operasi pasar valas, SRBI, dan stabilisasi SBN,” jelas Josua.
Sebaliknya, Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai Bank Indonesia tidak perlu mengubah tingkat suku bunga acuan. Kenaikan BI Rate justru dikhawatirkan memperparah tekanan bagi para pelaku usaha di sektor riil yang sedang menghadapi mahalnya mata uang dolar AS.
“Seharusnya BI rate naik itu tidak perlu. Karena BI rate naik, praktis suku bunga yang lainnya pun juga ikut naik. Itu semakin membebani real sector yang sekarang banyak yang terpukul akibat posisi valas dolar yang nilainya mahal,” jelas Myrdal kepada kumparan.
Menurut analisis Myrdal, ketahanan eksternal Indonesia yang teercermin dari cadangan devisa April sebesar USD 146,1 miliar masih sangat memadai. Pasokan valuta asing tersebut dinilai cukup aman untuk meredam fluktuasi kurs harian akibat keluarnya modal asing maupun pembayaran dividen.
“Kalaupun ada yang membuat kenapa sekarang kelihatannya pressure-nya besar ya, bisa jadi karena dividen,” kata Myrdal.