Investor Rotasi Portofolio ke Saham Fundamental Saat IHSG Anjlok
Para investor mulai meracik kembali komposisi portofolio investasi dengan bermigrasi ke saham-saham berfundamental kuat di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan tingginya volatilitas rupiah hingga Rabu (20/5/2026).
Data pasar modal dari Bloomberg menunjukkan indeks IDX Value30 menyusut 9,56 persen dalam sebulan terakhir ke level 125 pada Selasa (19/5), namun performa ini lebih baik dibanding IHSG yang merosot 16,11 persen ke posisi 6.370,68.
Berdasarkan data RTI Business per Selasa (19/5), indeks saham acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut bahkan telah tercatat turun 26,47 persen secara year to date (YTD) dari level tertingginya di 9.174,474 hingga menyentuh titik terendah tahun ini di level 6.323,264.
Tekanan di pasar domestik dipicu oleh derasnya arus keluar dana asing dengan catatan net foreign sell sebesar Rp 41,28 triliun di seluruh pasar dan Rp 51,09 triliun khusus di pasar reguler, meskipun investor asing melakukan net buy Rp 9,80 triliun di pasar negosiasi dan tunai.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan di BEI sejauh ini masih ditopang investor domestik yang menguasai porsi volume transaksi sebesar 79,94 persen, nilai transaksi turnover mencapai 66,36 persen, serta frekuensi transaksi hingga 83,48 persen.
Kondisi pasar yang bergejolak ini mendorong para pelaku pasar mencari perlindungan pada indeks IDX Value30 yang memiliki karakteristik valuasi murah, fundamental solid dengan arus kas kuat, serta tingkat likuiditas tinggi.
"Koreksi yang lebih rendah dibandingkan IHSG dalam sebulan mengonfirmasi migrasi investor ke saham berkualitas di tengah ketidakpastian," ujar Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas pada Selasa (19/5/2026).
Pihaknya menilai saham berbasis fundamental kuat secara historis memiliki potensi pemulihan yang lebih kokoh dan berkelanjutan daripada saham pertumbuhan berprestasi premium saat pasar mulai pulih.
"Momentum paling tepat masuk adalah saat rupiah mulai stabil dan net sell asing mulai melandai," tutur Abida Massi Armand.
Peningkatan volatilitas pasar modal ini juga dikonfirmasi oleh analis lain yang melihat adanya pergeseran minat investor menuju sektor-sektor yang lebih aman.
"Likuiditas tinggi juga penting karena memudahkan investor institusi melakukan akumulasi maupun keluar tanpa menekan harga terlalu dalam," ungkap Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas pada Selasa (19/5).
Arinda melihat prospek IDX Value30 tetap menarik karena saham berbasis valuasi biasanya mencatatkan kinerja lebih unggul pada tahap awal pemulihan pasar, meskipun pergerakannya akan berlangsung lebih gradual.
"Namun, kenaikan IDX Value30 kemungkinan akan lebih gradual dibanding saham lapis dua atau saham growth karena karakter indeks ini memang lebih defensif dan berbasis fundamental," jelas Arinda Izzaty.
Sebagai langkah mitigasi risiko volatilitas yang masih tinggi, strategi jangka menengah hingga panjang disarankan melalui pembelian bertahap seperti metode buy on weakness pada saham pilihan seperti TLKM dan ICBP.
"Strategi bertahap seperti buy on weakness and dollar cost averaging juga lebih relevan dibanding langsung masuk agresif di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi," terang Arinda Izzaty.
Langkah pengelolaan aset secara terukur di tengah kepanikan pasar keuangan ini turut mendapat tanggapan dari perencana keuangan nasional.
"Di setiap kondisi seperti penurunan IHSG and kenaikan dolar AS, pasti ada potensi atau peluang," ujar Melvin Mumpuni, Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku sebagaimana dilansir dari Investasi pada Jumat (15/5/2026).
Melvin memaparkan sejumlah instrumen alternatif berisiko rendah untuk lindung nilai, seperti emas dengan potensi imbal hasil 8 hingga 11 persen per tahun, SBN atau reksadana pendapatan tetap dengan kupon 6,5 sampai 7,5 persen, serta deposito atau reksadana pasar uang berimbal hasil 3 hingga 5 persen.