Gedung Putih Setujui Dana Rp 143 Triliun untuk AI Intelijen AS

Share

Gedung Putih dilaporkan telah menyetujui permohonan dana darurat sebesar USD 9 miliar atau sekitar Rp 143 triliun. Langkah ini diambil untuk mendongkrak kemampuan kecerdasan buatan (AI) pada lembaga intelijen Amerika Serikat secara masif.

Kucuran dana besar yang disetujui pada 22 Mei lalu ini dialokasikan untuk membiayai pengadaan chip AI mutakhir beserta infrastruktur penunjangnya. Fasilitas tersebut nantinya ditempatkan di dalam lingkungan rahasia pemerintah.

Melalui kebijakan ini, badan intelijen seperti CIA dan NSA dapat mengoperasikan model AI canggih yang setara dengan milik perusahaan teknologi komersial. Sistem operasional tersebut tetap berjalan di bawah pengamanan super ketat, seperti dikutip dari Detik iNET.

Lembaga intelijen Amerika Serikat selama ini ikut menghadapi kendala akibat kelangkaan pasokan semikonduktor canggih. Masalah tersebut menghambat integrasi model AI terbaru ke dalam sistem rahasia mereka.

Suntikan dana USD 9 miliar ini difokuskan secara khusus untuk mengatasi kendala pasokan tersebut. Sebagian besar anggaran dialihkan guna membangun infrastruktur penunjang chip super Grace Blackwell besutan Nvidia.

Perangkat keras kelas berat ini tidak dapat dipasang pada rak server standar. Komponen ini memerlukan ekosistem khusus, termasuk pusat data berdaya listrik besar dan sistem pendingin cair tingkat lanjut guna mencegah panas berlebih.

Rencana pengajuan anggaran rahasia ini pertama kali dipublikasikan oleh jurnalis The New York Times, Dustin Volz dan Julian E. Barnes. Informasi tersebut dihimpun berdasarkan keterangan dari sejumlah pejabat serta mantan pejabat Amerika Serikat.

Urgensi Keamanan Nasional AS

Langkah pengalokasian dana mendadak ini didorong oleh kekhawatiran bahwa lembaga intelijen Amerika Serikat akan tertinggal dalam adopsi teknologi. Pemerintah khawatir kalah bersaing dari kompetitor asing maupun laboratorium AI komersial publik.

Pemanfaatan AI generatif kini menjadi instrumen krusial dalam memproses volume data intelijen yang sangat besar. Arus data mentah seperti citra satelit, hasil penyadapan komunikasi, hingga informasi sumber terbuka telah melampaui kapasitas analisis manual manusia.

Suntikan dana ini merepresentasikan langkah strategis dari pemerintahan era Trump untuk mengejar ketertinggalan teknologi. Upaya tersebut dilakukan agar kesenjangan digital tidak menjadi celah yang membahayakan keamanan nasional Amerika Serikat.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
danto-wijaya-kusuma
Author