Investor Domestik Mengubah Portofolio Saat IHSG Melemah ke Level 6370
Para investor di pasar modal Indonesia melakukan penataan ulang komposisi portofolio investasi mereka menyusul tekanan hebat yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG anjlok 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa (19/5/2026).
Koreksi mendalam di bursa domestik dipicu oleh pengumuman rebalancing Morgan Stanley Capital International serta FTSE Russel, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh kisaran Rp17.596 hingga Rp17.705 per dolar Amerika Serikat.
Data dari pasar saham mencatat indeks IDX Value30 yang berisi emiten berfundamental kuat dengan valuasi murah hanya turun 9,56 persen dalam sebulan terakhir, berbanding terbalik dengan IHSG yang merosot hingga 16,11 persen pada periode yang sama.
Di tengah volatilitas tinggi ini, investor asing tetap membukukan aksi beli bersih senilai Rp306,34 miliar di pasar reguler dan Rp260,12 milIar di seluruh pasar saham Indonesia.
Sektor industri dasar menjadi penekan utama dengan pelemahan mencapai 7,30 persen, sedangkan sektor kesehatan menjadi satu-satunya pertahanan dengan penguatan sebesar 0,55 persen.
Menyikapi fluktuasi pasar tersebut, beberapa perusahaan tercatat langsung mengambil tindakan taktis, termasuk rencana pembelian kembali atau buyback saham menggunakan kas internal.
PT Delta Dunia Makmur Tbk mengalokasikan dana maksimal US$6 juta atau setara Rp104,25 miliar untuk buyback, sementara PT Estika Tata Tiara Tbk menyiapkan dana internal paling banyak Rp100 miliar demi menjaga stabilitas harga di pasar.
Melihat perpindahan modal ini, analis menilai instrumen berbasis nilai dan fundamental solid menjadi tempat berlindung yang lebih aman dibandingkan saham-saham spekulatif.
"Koreksi yang lebih lower dibandingkan IHSG dalam sebulan mengonfirmasi migrasi investor ke saham berkualitas di tengah ketidakpastian," ujar Abida Massi Armand, Analis BRI Danareksa Sekuritas.
Abida menyarankan pelaku pasar untuk memprioritaskan saham dengan imbal hasil dividen di atas 4 persen sebagai bantalan portofolio investasi.
"Momentum paling tepat masuk adalah saat rupiah mulai stabil dan net sell asing mulai melandai," tutur Abida.
Perubahan arah investasi ini juga dikonfirmasi oleh pengamat pasar lainnya yang melihat adanya rotasi besar-besaran dari saham dengan pertumbuhan tinggi menuju sektor defensif.
"Likuiditas tinggi juga penting karena memudahkan investor institusi melakukan akumulasi maupun keluar tanpa menekan harga terlalu dalam," ungkap Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas.
Arinda menambahkan bahwa performa IDX Value30 yang didominasi sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan konsumer masih sangat menarik ketika bursa domestik memasuki fase pemulihan.
"Namun, kenaikan IDX Value30 kemungkinan akan lebih gradual dibanding saham lapis dua atau saham growth karena karakter indeks ini memang lebih defensif dan berbasis fundamental," jelas Arinda.
Di sisi lain, perencana keuangan mengingatkan agar perombakan portofolio dilakukan secara objektif untuk menjaga likuiditas jangka pendek serta kualitas aset jangka panjang.
"Di setiap kondisi seperti penurunan IHSG dan kenaikan dolar AS, pasti ada potensi atau peluang," ujar Melvin Mumpuni, Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku.
Melvin menyarankan investor agresif mengalokasikan 50 persen dana pada saham valuasi dan dividen, sementara bagi investor konservatif disarankan membagi aset berupa 30 persen saham defensif, 50 persen obligasi, dan 20 persen instrumen pasar uang.
"Saham sektor konsumer primer, perbankan besar, atau komoditas tertentu biasanya lebih resilien," ujar Melvin.
Penurunan kinerja juga berimbas pada laporan keuangan emiten, seperti PT ABM Investama Tbk yang mencatatkan penurunan laba bersih kuartal I-2026 sebesar 30,39 persen menjadi US$14,88 juta akibat lonjakan harga bahan bakar minyak global yang mencapai US$101,38 per barel.