Assemblr Manfaatkan AI dan Ekosistem Apple untuk Dorong Efisiensi Interna

Share

Integrasi teknologi artificial intelligence (AI) dalam operasional bisnis internal menjadi langkah krusial yang kini diambil oleh Assemblr Group. Langkah adopsi teknologi cerdas tersebut dilakukan untuk beradaptasi dengan perubahan zaman, dilansir dari Detik iNET.

Co-Founder dan CEO Assemblr Group Hasbi Asyadiq menilai perdebatan mengenai dampak AI yang berpotensi menggeser peran manusia merupakan pola berulang dalam setiap revolusi teknologi.

"Di setiap kemajuan teknologi pasti ada pro dan kontra. Dalam skala AI, pro dan kontranya juga makin kencang. Ada yang sangat mendukung, ada juga yang menentang, sangat terpolarisasi karena memang magnitudenya sebesar itu," kata Hasbi saat ditemui di Jakarta.

Hasbi menegaskan bahwa perusahaan berbasis teknologi tempatnya beralih tidak bisa terus bergantung pada metode kerja lama di tengah arus perubahan.

"Ini sebenarnya pola yang terus terjadi di dunia. Selalu ada revolusi yang terjadi, di mana zaman berubah. Menurut saya, kita tidak bisa terus bertahan dengan pipeline atau cara-cara lama, kita harus beradaptasi," ujarnya.

"Bagi kami justru ini opportunity karena nature kami adalah perusahaan teknologi," sambungnya.

Penerapan AI di internal Assemblr diwujudkan melalui pembentukan agen pintar bernama 'Perang Ajaib' yang terintegrasi langsung dengan platform komunikasi Slack.

Agen AI tersebut bekerja nonstop selama 24 jam untuk memantau serta menganalisis alur transaksi pengguna hingga menjadi pelanggan berbayar.

"Kami punya yang namanya 'Perang Ajaib'. Ini seperti agent yang kami pasang di Slack. Kerjaannya menganalisis user yang bayar. Misalnya ada yang bayar dari Surabaya, dia bayar jam segini dan lain-lain," jelas Hasbi.

Proses pelacakan mencakup seluruh aktivitas pengguna sebelum melakukan konversi pembayaran, termasuk durasi interaksi dan fitur yang diakses.

"Sebelum dia convert menjadi bayar, dia melakukan apa, pergi ke mana, baca apa, membuka fitur apa, sampai akhirnya conversion. Berapa menit sampai conversion, transaksinya berapa, setelah itu spending-nya berapa, apakah dia kembali atau tidak," ungkapnya.

Data perilaku transaksi yang diproses agen tersebut diolah menjadi laporan berkala untuk kebutuhan tim eksekutif.

"'Perang Ajaib' ini report 24 jam. Teknologi-teknologi seperti ini selalu kami ikuti di cutting edge-nya," kata Hasbi.

Pengembangan Fitur 3D dan AR Berbasis AI

Selain operasional internal, kemampuan pemrosesan gambar menjadi model tiga dimensi (3D) mulai disematkan langsung ke dalam produk Assemblr.

Sistem dapat menginterpretasikan foto secara otomatis, kemudian memberikan opsi penambahan interaksi, teks, hingga anotasi pada objek digital tersebut.

"Kita bisa mengambil gambar, kemudian langsung diinterpretasikan menjadi model 3D. Dari situ bisa ditambahkan anotasi, teks, atau interaksi. Misalnya ketika diklik, dia melakukan apa," jelas Hasbi.

Fitur AI ini dirancang untuk mempermudah pembuatan konten 3D dan Augmented Reality (AR) bagi pengguna awam tanpa latar belakang teknis.

Ke depan, platform yang sering dianalogikan sebagai "Canva untuk 3D dan AR" ini berencana mengeksplorasi pemrosesan suara serta teks.

Eksperimen Pemrosesan AI Lokal di Perangkat Laptop

Untuk menjaga kerahasiaan data, Hasbi menjalankan eksperimen pemrosesan model AI secara lokal langsung dari perangkat laptop tanpa bergantung pada jaringan cloud.

Laptop yang digunakannya dibekali spesifikasi tinggi, meliputi RAM 128 GB, penyimpanan internal 8 TB, serta CPU 40-core.

"Laptop saya RAM-nya 128 GB. Yang tadi dipresentasikan itu mentok atas, rata kanan. 40-core, storage 8 TB, kemudian RAM 128 GB, yang cukup tidak biasa untuk sebuah laptop. Sangat powerful," ujar Hasbi.

Skema pengujian lokal ini dinilai menjamin keamanan data sensitif perusahaan.

"Saya punya model AI yang berjalan secara lokal di laptop. Untuk confidential data, kita bisa menjalankannya secara lokal. Artinya sangat secure karena datanya tetap di perangkat sendiri," jelasnya.

Model bahasa AI seperti GLM menjadi salah satu yang diuji memanfaatkan keunggulan pemrosesan chip Apple terbaru.

"The latest chip dari Apple itu super powerful. Saya mencoba banyak model, GLM dan lain-lain," katanya.

Dukungan Ekosistem Perangkat Apple dalam Alur Kerja

Penggunaan ekosistem Apple telah menjadi bagian integral dari alur kerja Assemblr sejak prototype awal dikembangkan pada 2017 menggunakan ARKit di iPad.

Perangkat keras tersebut memfasilitasi seluruh tahap produksi, mulai dari sketsa awal, pemodelan 3D, animasi, hingga proses rilis aplikasi di App Store.

"Yang paling terasa itu streamline. Kami mulai dari sketching, 3D modeling, animation, sampai publishing dan deploying ke App Store. Semuanya sangat mulus," kata Hasbi.

Keandalan sistem menjadi faktor utama pemilihan lini perangkat keras tersebut untuk meminimalkan kendala teknis dalam pekerjaan harian.

"Mac dari dulu terkenal dengan reliability-nya. Itu yang paling penting karena masalah seperti file corrupt, virus atau hilang bisa menjadi masalah besar," ujarnya.

Pendekatan kepemimpinan Steve Jobs dalam menyederhanakan teknologi rumit juga menjadi inspirasi Hasbi dalam merancang produk Assemblr.

"Salah satu yang sangat memengaruhi saya di awal adalah Steve Jobs. Ketika kita membangun sesuatu, itu harus berguna untuk banyak orang, seamless, dan mudah digunakan," kata Hasbi.

"Ini bukan tentang seberapa high-tech teknologinya. Yang paling penting adalah pengguna," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author