Wamenkomdigi Ingatkan Generasi Muda Antisipasi Penjajahan Algoritma

Share

Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengingatkan generasi muda Indonesia mengenai bahaya dominasi algoritma media sosial yang dapat membentuk pola pikir masyarakat, dalam siaran pers yang dikutip pada Selasa (26/5/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Nezar Patria untuk merespons ruang digital saat ini yang dinilai semakin membuat publik sulit membedakan antara fakta, opini, maupun manipulasi informasi, sebagaimana dilansir dari Detik iNET.

Kondisi masyarakat yang hidup di dalam ruang digital saat ini dipengaruhi secara kuat oleh platform teknologi, sehingga memunculkan fenomena filter bubble dan echo chamber di tengah publik.

"Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber," ujarnya Nezar Patria, Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi).

Penetrasi teknologi tersebut dinilai menjadi ancaman serius karena dapat memperkuat polarisasi sosial, mempercepat penyebaran misinformasi, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat.

"Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya," tegas Nezar Patria, Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi).

Bahaya misinformasi dan disinformasi tersebut sejalan dengan laporan World Economic Forum yang menempatkannya sebagai salah satu risiko global terbesar pada tahun 2026.

Selain masalah algoritma, perkembangan cepat artificial intelligence (AI) mulai dari generative AI, agentic AI, hingga physical AI berbasis robotika juga turut menjadi sorotan.

Persaingan global saat ini dinilai telah bergeser dari perebutan sumber daya alam menjadi penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

"Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI and penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar," katanya Nezar Patria, Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi).

Indonesia sebenarnya memiliki peluang besar dalam persaingan tersebut karena didukung oleh bonus demografi serta kekayaan mineral strategis untuk industri teknologi global.

Kendati demikian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi syarat mutlak agar potensi tersebut tidak terbuang sia-sia.

Generasi muda serta organisasi kepemudaan dan pelajar diminta memperkuat kemampuan STEM dan meningkatkan literasi digital demi menjaga ruang digital Indonesia tetap sehat.

"Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi," pungkas Nezar Patria, Wakil Menteri Kementerian Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi).

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author