Pakar Toksinologi Imbau Wisatawan Waspadai Ular di Candi
Dokter spesialis emergensi RS Permata Depok sekaligus pakar toksinologi Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K) mengingatkan wisatawan untuk mewaspadai potensi keberadaan ular saat berkunjung ke cagar budaya cikal bakal bangunan candi, Selasa (4/8/2026), seperti dilansir dari Detik Travel.
Kawasan candi yang memiliki kelembapan tinggi serta celah bebatuan rapat menjadi lingkungan ideal bagi satwa melata tersebut untuk berlindung, sehingga masyarakat diimbau tidak mengabaikan faktor keselamatan meski area wisata sudah tertata rapi.
Edukasi mengenai bahaya penanganan satwa liar di kawasan bersejarah telah beberapa kali disampaikan oleh pakar toksinologi tersebut kepada pihak pengelola objek wisata.
"Di candi-candi itu banyak ular. Tempatnya lembap, banyak celah batu, teduh, jadi nyaman untuk ular bersembunyi," kata Tri Maharani.
Lingkungan fisik situs purbakala yang berumur ratusan hingga ribuan tahun kerap dikelilingi semak serta ruangan sempit yang jarang tersentuh aktivitas pengunjung.
"Bangunan candi itu kan banyak celah. Dingin, lembap, dan sempit. Itu tempat yang nyaman untuk ular," kata dia.
Temuan populasi ular kobra di situs sejarah wilayah Cirebon menjadi bukti konkret keberadaan satwa berbisa di lokasi wisata budaya.
"Saya pernah ke sana dan memang ada ular kobranya," kata Maha yang juga menjabat Ketua Kajian Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun Kementerian Kesehatan.
Keberadaan satwa ini merupakan bagian dari ekosistem alami yang tidak seharusnya menghentikan aktivitas pariwisata, melainkan diantisipasi dengan kewaspadaan standar.
Penggunaan APD dasar seperti sepatu tertutup, topi, dan pakaian berlengan panjang sangat disarankan guna mencegah risiko cedera fisik maupun gigitan.
"Kalau mengunjungi tempat-tempat seperti itu sebaiknya memakai sepatu. Kalau bisa juga memakai topi dan pakaian lengan panjang atau jaket," kata dia.
Kesiapsiagaan pengelola destinasi wisata dalam memfasilitasi tim medis, pelatihan penanganan toksinologi, serta kejelasan rujukan rumah sakit menjadi krusial.
"Satu, harus punya tim kesehatan. Kedua, petugasnya harus mendapat pelatihan tentang toksinologi. Ketiga, tahu harus merujuk ke mana kalau ada korban," kata Maha.
Fasilitas evakuasi darurat seperti ketersediaan kendaraan medis atau ambulans dinilai wajib disiapkan oleh pengelola di tempat wisata yang padat pengunjung.
"Jangan sampai orang yang menjadi korban justru harus mencari ambulans sendiri," kata dia.
Pengunjung juga dilarang keras memukul, menangkap, atau memprovokasi ular karena hewan tersebut hanya akan menyerang saat merasa terancam.
"Jangan konfrontasi dengan ular. Ular itu menggigit untuk mempertahankan dirinya," kata dia.
Identifikasi jenis ular secara manual saat situasi darurat tidak direkomendasikan mengingat banyaknya keanekaragaman spesies di Indonesia.
"Kita tidak mungkin menghafal semua jenis ular di Indonesia. Indonesia memiliki sekitar 300 spesies ular yang tidak berbisa dan sekitar 180 spesies ular berbisa. Tidak mungkin masyarakat awam mampu membedakan semuanya. Karena itu, kalau seseorang digigit ular, anggap saja semua ular berbisa," kata Maha.
Pertolongan pertama pada korban gigitan dilakukan melalui prosedur imobilisasi atau membatasi pergerakan bagian tubuh yang terkena gigitan sebelum dipindahkan ke fasilitas kesehatan terdekat.
"Segera lakukan pertolongan pertama berupa imobilisasi, yaitu membatasi gerakan anggota tubuh yang tergigit, lalu segera bawa korban ke fasilitas kesehatan," ujar dia.