Ciri Orang Memiliki Self Esteem Rendah dan Faktor Penyebabnya
Tingkat percaya diri atau self-esteem yang sehat menjadi modal penting bagi seseorang dalam mengarungi dinamika kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, rasa harga diri yang minim kerap memicu keraguan atas potensi pribadi, bahkan saat menghadapi persoalan yang terbilang sederhana.
Dampak dari rendahnya self-esteem tidak berhenti pada persepsi individu terhadap dirinya sendiri. Kondisi ini berpotensi memicu masalah kesehatan mental yang lebih kompleks serta mengganggu kualitas interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.
Seseorang yang mengalami krisis kepercayaan diri cenderung rentan diterpa beban stres berlebih, gangguan kecemasan, hingga kerap mengorbankan batasan personal demi menyenangkan orang lain. Dikutip dari HaiBunda, para ahli psikologi membeberkan sejumlah indikator utama yang menandai rendahnya self-esteem pada diri seseorang.
Pola komunikasi internal berupa kritik berlebihan terhadap diri sendiri menjadi salah satu tanda dominan dari rendahnya harga diri seseorang. Di samping itu, terdapat beberapa sinyal perilaku lain yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Perilaku menghindar menjadi indikator bahaya yang paling menonjol pada individu dengan tingkat percaya diri rendah. Psikolog Dr. Jody Carrington menjelaskan bahwa kecenderungan untuk menjauhi situasi atau pengalaman tertentu kerap terjadi ketika seseorang merasa tidak mumpuni dalam bidang tersebut.
Indikator lainnya adalah fokus yang berlebihan pada upaya perbaikan diri secara terus-menerus. Menurut psikolog klinis Dr. Michael Jones, Ph.D., penderita self-esteem rendah sering terjebak dalam pemikiran bahwa mereka harus mengganti versi diri mereka saat ini agar bisa diterima.
Kondisi ini juga berjalan seiring dengan timbulnya rasa cemas yang berkepanjangan. Kekhawatiran mengenai ketidakmampuan dalam mengelola beban stres di masa depan menjadi pemicu utama munculnya kecemasan tersebut.
Dampak lanjutan dari harga diri yang rendah dapat bermuara pada kondisi depresi. Situasi ini berisiko memicu isolasi sosial serta ketidakmampuan merasakan kesenangan, yang pada akhirnya membuat seseorang enggan mengambil risiko untuk meraih pencapaian.
Sifat tidak enak hati atau selalu berusaha menyenangkan orang lain juga menjadi ciri yang sering dijumpai. Individu dengan harga diri rendah merasa wajib menyetujui permintaan orang lain meskipun bertentangan dengan keinginan pribadinya.
Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D., seorang psikolog sekaligus penasihat media Hope for Depression Research Foundation, menyebutkan bahwa dampak self-esteem rendah memiliki efek domino yang mampu merembet ke berbagai aspek kehidupan lain secara luas.
Selain itu, kebiasaan membandingkan pencapaian dan kualitas diri sendiri secara terus-menerus dengan orang lain menjadi fenomena umum yang kerap dialami oleh kelompok ini.
Faktor Pemicu Rendahnya Self-Esteem
Terbentuknya rasa harga diri yang rendah dalam diri seseorang umumnya dipengaruhi oleh kombinasi berbagai elemen yang kompleks dan saling berkaitan.
Dr. Ernesto Lira de la Rosa, Ph.D., mengungkapkan bahwa faktor lingkungan, biologis, hingga psikologis memegang peranan penting dalam membentuk tingkat kepercayaan diri seseorang. Faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan kecenderungan kecemasan yang berimbas pada penurunan harga diri.
Di samping faktor biologis, riwayat pengasuhan pada masa kanak-kanak memberikan pengaruh signifikan. Tumbuh di lingkungan dengan pola asuh yang kerap menyampaikan pesan negatif, seperti tindakan mempermalukan bentuk tubuh atau kritik tajam terhadap prestasi, menjadi salah satu akar utama pemicu rendahnya self-esteem.