IHSG Melemah Tipis Didukung Saham TLKM dan Aktivitas Jual Asing

Share

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tipis 0,03% ke level 6.234,50 pada perdagangan Senin (3/8), dengan saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi salah satu penopang utama indeks, demikian dilansir dari Detik Finance.

Pergerakan IHSG hari itu cenderung terbatas setelah sempat bergerak di zona positif dan negatif. Saham TLKM naik 4,18%, AMMN menguat 4,39%, dan MAPI melonjak 21,86%. Sementara itu, saham BREN melemah 4,18%, DCII turun 1,66%, dan BBRI menyusut 0,66% memberikan tekanan pada indeks.

Investor asing masih melakukan aksi jual bersih dengan nilai Rp758,71 miliar di pasar reguler dan Rp708,00 miliar secara keseluruhan. Dari 11 indeks sektoral, delapan sektor berakhir di zona merah. Sektor teknologi mengalami penurunan terbesar sebesar 1,52%, sementara sektor barang konsumsi siklikal naik tertinggi 1,64%.

Dari pasar global, bursa saham Amerika Serikat menguat dengan Dow Jones naik 1,32%, S&P 500 menambah 1,48%, dan Nasdaq meningkat 2,13%. Pelaku pasar domestik juga mencermati implementasi notasi khusus Bursa Efek Indonesia yang mulai berlaku pada 3 Agustus 2026.

Notasi L diberikan kepada emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan, sedangkan notasi B dan M berkaitan dengan kondisi kepailitan dan proses PKPU. Notasi P terkait ketentuan free float akan diterapkan bertahap mulai November 2026 hingga April 2027 untuk papan akselerasi dan utama.

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) meraih pendapatan konsolidasi sebesar Rp75,90 triliun pada semester I-2026, naik 3,90% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp73,05 triliun. Pertumbuhan didorong oleh peningkatan pendapatan segmen B2B Infrastructure sebesar 19,00% menjadi Rp33,10 triliun seiring tumbuhnya layanan data, internet, dan IT service.

Dalam segmen B2C, pendapatan Telkomsel naik 3,30% menjadi Rp55,60 triliun, didukung pertumbuhan bisnis digital sebesar 11,00% dan peningkatan ARPU seluler menjadi Rp45.600.

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat menjadi Rp10,60 triliun dari Rp10,45 triliun pada semester I-2025. Arus kas operasional bertambah 7,00% menjadi Rp34,90 triliun berkat program efisiensi yang berlanjut.

PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) mengumumkan rencana Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD II) senilai maksimal Rp1,54 triliun. Perseroan akan menerbitkan hingga 6,15 miliar saham baru atau sekitar 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor setelah aksi korporasi dengan harga pelaksanaan Rp250 per saham.

Setiap pemegang empat saham lama per 28 September 2026 berhak memperoleh satu HMETD untuk membeli satu saham baru. Dana hasil aksi korporasi akan digunakan untuk pengembangan proyek properti dan perhotelan di Bali dan Bintan, termasuk akuisisi Royal Uluwatu Residence dan pengembangan West Resort Uluwatu melalui Bukit Bali Permai senilai Rp420,49 miliar.

BUVA juga mengalokasikan dana untuk pelunasan utang pembiayaan, pembangunan infrastruktur Uluwatu Estate, renovasi Alila Ubud, dan penyertaan modal di Bukit Lagoi Villa.

PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) menetapkan dividen tunai interim tahun buku 2026 sebesar Rp60 per saham atau total sekitar Rp1,19 triliun. Dividen tersebut setara 58,39% dari laba bersih semester I-2026 dengan laba bersih Rp2,04 triliun, saldo laba ditahan Rp6,21 triliun, dan total ekuitas Rp11,93 triliun.

Dengan harga penutupan saham Rp1.840 pada 3 Agustus, dividend yield mencapai sekitar 3,26%. Jadwal cum dividen ditetapkan 11 Agustus 2026, dan pembayaran dividen paling lambat 31 Agustus 2026.

Follow publika.id on Google News Follow
Topik Terkait: ihsg investasi pasar saham
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author