ASEAN Perkuat Integrasi Ekonomi Hadapi Fragmentasi Geopolitik Global

Share

Negara-negara anggota ASEAN memilih untuk memperdalam integrasi ekonomi kawasan sebagai langkah merespons persaingan geopolitik global dan ancaman proteksionisme. Penegasan tersebut disampaikan Wakil Perdana Menteri Singapura Gan Kim Yong dalam diskusi panel Singapore Business Federation ASEAN Conference 2026 di Resorts World Convention Centre, Singapura, pada 31 Juli 2026.

Langkah integrasi regional ini diperkuat oleh laporan GeoEconomics Center Atlantic Council yang dirilis pada 3 Agustus 2026. Laporan tersebut mencatat bahwa lima ekonomi berkembang utama atau ASEAN-5—yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam—menyumbang lebih dari 84 persen PDB serta 87 persen populasi di kawasan Asia Tenggara.

Kawasan ASEAN memperkuat kerja sama rantai pasok sejak pandemi Covid-19 dan memperbarui Perjanjian Perdagangan Barang pada 2025 saat Amerika Serikat menerapkan tarif global. Selain itu, Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital (DEFA) dijadwalkan mulai berlaku pada 2027 untuk menyelaraskan aturan perdagangan digital, aliran data, dan pembayaran lintas negara.

Fondasi utama dari kemampuan ASEAN untuk terus terintegrasi dan mempertahankan sentralitas adalah kepercayaan yang terbangun lewat penyelesaian berbagai krisis bersama secara historis.

"Dunia sedang terpecah dan mengalami fragmentasi, tetapi pada saat yang sama, ASEAN justru terus terintegrasi," kata Gan Kim Yong, Deputy Prime Minister Singapura.

Kepercayaan yang terakumulasi antarnegara anggota memungkinkan tercapainya kemajuan pada berbagai kesepakatan ekonomi yang kompleks di tengah perbedaan struktur ekonomi tiap negara.

"Karena kita telah melewati banyak krisis bersama, dan dalam setiap krisis kita mampu mengatasinya serta bekerja sama, hal itu memperdalam rasa saling percaya di antara anggota ASEAN," ujar Gan Kim Yong, Deputy Prime Minister Singapura.

Keberhasilan berbagai perjanjian ekonomi kawasan sangat bergantung pada partisipasi aktif komunitas bisnis, bukan hanya keputusan pemerintah semata. Setelah DEFA diterapkan pada 2027, kolaborasi kecerdasan buatan (AI) akan menjadi agenda digital prioritas berikutnya untuk ASEAN yang berfokus pada tata kelola, standar, dan pengembangan kapabilitas.

Dukungan terhadap infrastruktur teknologi di kawasan juga datang dari sektor swasta global melalui investasi berskala besar di bidang komputasi awan dan AI.

"Don't wait for the perfect model because it will continue to evolve," kata John Kain, Head of Worldwide Business and Market Development for Financial Services AWS.

Investasi AWS di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand diproyeksikan mencapai lebih dari 33 miliar dolar AS pada 2039. Nilai tersebut diperkirakan menambah 64 miliar dolar AS pada PDB gabungan keempat negara tersebut serta melatih lebih dari 2,7 juta individu dalam keterampilan cloud sejak 2017.

"The challenge is always: How does the technology get implemented and integrated into your business operations that will actually augment productivity and efficiency?" ujar John Kain, Head of Worldwide Business and Market Development for Financial Services AWS.

Pemanfaatan AI dipandang bukan sekadar adopsi teknologi baru, melainkan pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang memberikan imbal hasil nyata bagi perusahaan.

"AI is really not just a technology story. It is an economic growth story in terms of business impact," kata Edmund Leong, Head of Corporate Banking UOB.

Perusahaan-perusahaan di kawasan kini aktif mengadopsi AI karena efisiensi dan dampak ekonomis positif yang dihasilkannya secara langsung.

"Companies and enterprises are adopting it because it really has those positive economic returns," ujar Edmund Leong, Head of Corporate Banking UOB.

Di sisi lain, kawasan ASEAN juga menghadapi tantangan kerentanan energi akibat gejolak harga minyak dan gas dunia yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah.

"Now, more than ever, is the time for us to say, how do we now invest for growth, but with the additional lens of resiliency in mind," kata Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies in Singapore.

Meskipun kawasan ini mewakili 10 persen populasi dunia, konsumsi energinya baru mencapai 50 hingga 60 persen dari tingkat konsumsi Uni Eropa, sehingga ruang investasi energi bersih masih terbuka lebar.

"And that's important because if we don't already build that in, when we have the opportunity to do it and do it urgently, then we're losing that window," ujar Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies in Singapore.

Kondisi geopolitik global yang tidak menentu menunjukkan bahwa volatilitas telah menjadi realitas baru yang harus dihadapi oleh para pelaku usaha.

"So, you can see that there's actually a huge amount of opportunity ahead for us to keep investing in energy for growth," kata Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies in Singapore.

Ketidakpastian pasar global diperkirakan tidak akan hilang dalam waktu dekat, sehingga perusahaan dituntut untuk tetap beroperasi dan tumbuh di tengah situasi tersebut.

"The volatility is very real. No one knows when it's going to settle down or resolve itself," ujar Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies in Singapore.

Pelaku bisnis di Asia Tenggara diharapkan mampu menyesuaikan strategi navigasi usahanya agar tetap berdaya saing tinggi.

"So, volatility is here to stay. It's not disappearing any time soon. We need to get used to, how do you continue your business, continue to grow in that state," kata Aw Kah Peng, Chairman Shell Companies in Singapore.

Data World Economic Forum menunjukkan keterlibatan rantai nilai global (GVC) ASEAN berada di kisaran 25 hingga 27 persen dengan lebih dari 60 persen total ekspor terhubung ke GVC. Saat Singapura mengambil alih keketuaan ASEAN pada 2027, fokus utama kawasan adalah melanjutkan integrasi internal sembari memperluas kemitraan strategis global.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author