BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang Melanda Sejumlah Wilayah Indonesia

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memperingatkan peningkatan kecepatan angin di sejumlah daerah pada puncak musim kemarau Sabtu, 25 Juli 2026. Fenomena ini dipicu penguatan Monsun Australia, fenomena El Nino, serta adanya perbedaan tekanan udara.

Embusan angin kencang melanda wilayah Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, hingga Jawa Timur. Di Semarang, pergerakan pusaran angin mirip puting beliung di Jalan Suratmo sempat terekam kamera warga pada Jumat, 24 Juli 2026 pukul 12.50 WIB.

Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Giyarto, memberikan penjelasan mengenai dinamika atmosfer yang terjadi di Jawa Tengah tersebut.

"Saat ini sudah mendekati puncak kemarau sehingga perbedaan tekanan di BBU dan BBS cukup lebar. Salah satu sebabnya adalah itu," kata Giyarto kepada Kompas.com, Jumat.

Menurut penjelasannya, peningkatan kecepatan angin di Semarang juga dipengaruhi oleh munculnya bibit siklon tropis di belahan bumi utara.

"Dan adanya bibit Siklon Tropis di BBU juga dapat meningkatkan kecepatan angin di wilayah kita," ujarnya.

Sementara itu, fenomena serupa melanda Nusa Tenggara Barat dengan pergerakan kecepatan angin maksimum mencapai 20 knot atau setara 37 kilometer per jam berdasarkan pantauan di Bandara Lombok.

Ketua Kelompok Kerja Observasi, Data, dan Informasi Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Ari Wibianto, mengonfirmasi data pengamatan tersebut.

"Dari pengamatan kami di Bandara Lombok tercatat kecepatan angin maksimum hingga 20 knot," kata Ari Wibianto saat dihubungi di Mataram, Kamis.

Ia menyampaikan bahwa pergerakan massa udara kering dari Benua Australia memang rutin terjadi pada pertengahan tahun.

"Angin kencang wajar terjadi ketika di musim kemarau, karena di bulan Juli hingga Agustus dari data yang kami catat memang menunjukkan adanya peningkatan kecepatan angin di wilayah NTB," ucap Ari.

Dampak angin kencang juga menjadi perhatian BMKG Dhoho Kediri karena berpotensi memicu bahaya kebakaran lahan serta mengganggu penerbangan dan transportasi darat akibat terpaan dari samping.

Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik sekaligus Prakirawan Cuaca BMKG Dhoho Kediri, Satria Kridha Nugraha, memaparkan analisis kondisi cuaca musiman tersebut.

"Pola anginnya masih normal karena memang menjadi ciri musim kemarau. Hanya saja, pengaruh El Nino membuat embusan angin terasa lebih kuat sehingga dampaknya perlu lebih diwaspadai," ujar Satria, Sabtu, 25 Juli 2026.

Satria mengingatkan seluruh pengemudi moda transportasi agar lebih berhati-hati terhadap gangguan stabilitas laju kendaraan.

"Angin dari arah samping bisa memengaruhi keseimbangan kendaraan, termasuk pesawat. Karena itu, informasi cuaca perlu menjadi salah satu pertimbangan sebelum melakukan perjalanan," katanya.

Kerentanan vegetasi kering di tengah cuaca panas ekstrem turut berisiko mempercepat penyebaran kobaran api jika timbul titik kebakaran.

"Ketika udara semakin kering dan angin bertiup lebih kencang, api akan lebih cepat menyebar. Sebisa mungkin hindari aktivitas pembakaran terbuka, karena percikan kecil sekalipun dapat memicu kebakaran yang lebih besar," jelasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author