Danantara Asset Management Ambil Alih Empat Manajer Investasi BUMN

Share

PT Danantara Asset Management resmi mengambil alih empat perusahaan manajer investasi anak usaha BUMN pada Rabu, 22 Juli 2026. Aksi korporasi ini mengonsolidasi dana kelolaan atau Asset Under Management dengan nilai total melebihi Rp170 triliun.

Empat entitas yang diambil alih meliputi PT Mandiri Manajemen Investasi, PT BRI Manajemen Investasi, PT BNI Asset Management, dan PT PNM Investment Management. Pengalihan kepemilikan saham tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Pembelian Saham dan Akta Jual Beli Saham.

Nilai transaksi akuisisi Mandiri Manajemen Investasi mencapai Rp1,02 triliun, sementara BRI Manajemen Investasi sebesar Rp975 miliar untuk 65 persen saham. Pengambilalihan 99,99 persen saham PNM Investment Management mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp345 miliar.

Pengalihan saham ini merupakan pelaksanaan Perjanjian Jual Beli Bersyarat tertanggal 1 April 2026. Pascatransaksi, laporan keuangan keempat entitas tersebut resmi dilepas dari konsolidasi induk BUMN masing-masing tanpa mengganggu stabilitas operasional perseroan.

"Ini merupakan langkah besar untuk memperkuat industri manajemen investasi nasional. Keempat perusahaan ini memiliki pengalaman, jaringan, dan kapabilitas yang kuat, serta secara kolektif mengelola dana (AUM) lebih dari Rp170 triliun," kata Dony Oskaria, COO Danantara.

Dalam kurun waktu satu bulan pasca-akuisisi, Danantara merencanakan peleburan keempat entitas menjadi satu perusahaan manajemen aset tunggal. Mandiri Manajemen Investasi diproyeksikan menjadi entitas yang bertahan atau surviving entity dalam skema integrasi tersebut.

"Dalam satu bulan ke depan, keempat asset management ini akan melakukan merger menjadi satu perusahaan manajemen aset terbesar di Indonesia. Proses ini merupakan bagian dari streamlining yang sedang dilakukan oleh Danantara Indonesia,” ujar Dony Oskaria, COO Danantara.

Guna merespons peleburan bisnis ini, lini manajemen dari masing-masing anak usaha BUMN memberikan pandangannya terkait arah sinergi perusahaan ke depan.

"Konsolidasi ini merupakan langkah strategis untuk membangun institusi manajemen investasi nasional yang memiliki skala, kapabilitas, dan tata kelola yang semakin kuat. Berbekal pondasi tersebut, kami optimistis industri manajemen investasi Indonesia akan semakin kompetitif dan mampu memperkuat kepercayaan investor, baik di tingkat domestik maupun global," ujar Hardiyanto Pilia, Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi.

Integrasi lini bisnis diarahkan pada pengembangan produk tematik serta perluasan saluran distribusi ritel memanfaatkan basis jaringan perbankan Himbara.

“Kami melihat momentum yang sangat besar di depan. Dengan basis investor ritel yang terus bertumbuh dan kepercayaan institusi yang semakin kuat, sinergi keempat entitas ini akan menjadikan perusahaan hasil konsolidasi sebagai mitra investasi pilihan bagi jutaan masyarakat Indonesia,” ujar Hardiyanto Pilia, Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi.

Sektor perbankan pendukung mencatatkan kontribusi dana kelolaan yang signifikan, termasuk BRI MI yang membukukan AUM sebesar Rp52,61 triliun hingga Juni 2026.

“Dengan kekuatan jaringan distribusi dan basis investor ritel yang terus berkembang, pengbagungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya sekaligus mempercepat pendalaman pasar keuangan modal," ujar Arief Budiman, Direktur Utama PT BRI Manajemen Investasi.

Sinergi skala usaha juga didukung oleh capaian portofolio dari entitas BUMN lainnya dalam struktur konsolidasi.

“Kami optimistis penggabungan ini akan memperkuat kapasitas pengelolaan investasi nasional melalui sinergi keahlian investasi, inovasi produk, penguatan tata kelola, serta skala usaha yang semakin solid dan kompetitif,” ujar Ari Adil, Direktur Utama PT BNI Asset Management.

Portofolio AUM BNI Asset Management tercatat sebesar Rp29,59 triliun, sedangkan PNM Investment Management menyumbang dana kelolaan sebesar Rp10,31 triliun per Juni 2026.

“Kolaborasi ini menjadi langkah penting untuk membangun institusi manajer investasi yang tidak hanya semakin kuat secara bisnis, tetapi juga mampu memperluas manfaat ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang lebih berkelanjutan," ujar Ade Santoso Djajanegara, Direktur Utama PT PNM Investment Management.

"Streamlining itu bukan tujuan akhir, yang paling penting adalah bagaimana aset-aset BUMN yang sudah ditata bisa dikelola lebih optimal, lebih produktif,” kata Dony Oskaria, COO Danantara.

Proses integrasi empat entitas manajer investasi BUMN ke dalam Danantara Asset Management akan dijalankan secara bertahap dengan mengedepankan pemenuhan regulasi pasar modal.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author