Menperin Dorong BUMN Bangun Kapabilitas Industri Nasional di Tangerang

Share

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meminta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk berperan aktif membangun kapabilitas industri nasional di Serpong, Tangerang, pada Rabu (19/8/2026).

Langkah ini dinilai lebih krusial dibandingkan peran BUMN yang hanya sebatas mengelola atau menjadi pemilik aset negara di tengah tingginya ketidakpastian dunia.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, industri pengolahan nonmigas tumbuh sebesar 5,32 persen pada triwulan II 2026. Sektor manufaktur ini berkontribusi 16,83 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional senilai Rp1.102,88 triliun.

Realisasi investasi sektor tersebut mencapai Rp199,48 triliun dan sukses menyerap 19,99 juta tenaga kerja hingga Februari 2026. Capaian nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 turut menempati peringkat ke-12 dunia dengan raihan 275,61 miliar dolar AS.

Dalam pembekalan Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan Pegawai BUMN, Agus menyoroti pentingnya kepekaan calon pemimpin terhadap perubahan geopolitik, geoekonomi, serta disrupsi teknologi.

"Ketika saudara kembali ke perusahaan masing-masing, ada pertanyaan fundamental yang harus dijawab. Apakah bisnis perusahaan kita hari ini masih akan relevan lima atau sepuluh tahun dari sekarang? Pertanyaan ini harus menjadi perhatian utama karena perubahan dunia berlangsung semakin cepat dan ketidakpastiannya semakin tinggi," kata Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita.

Ukuran aset perusahaan yang raksasa serta kejayaan di masa lalu dinilai tidak bisa menjamin kelangsungan hidup sebuah bisnis pada masa depan.

"Dalam dunia yang berubah cepat, ukuran bukanlah jaminan keamanan. Besarnya perusahaan bukan jaminan keamanan. Demikian pula, keberhasilan masa lalu bukanlah jaminan untuk relevansi masa depan. Keberhasilan masa lalu tidak otomatis menjamin relevansi perusahaan di masa depan," ujar Agus Gumiwang Kartasasmita.

Potensi disrupsi acap kali menghantam sektor industri secara beruntun, mulai dari fluktuasi perekonomian global hingga ancaman siber dan masa transisi energi.

"Yang membuat tantangan semakin berat adalah risiko tersebut tidak datang satu per satu. Perusahaan dapat menghadapi pelemahan nilai tukar, kenaikan harga energi dan suku bunga, penurunan permintaan, gangguan rantai pasok, serangan siber, serta perubahan regulasi secara bersamaan. Inilah yang saya sebut sebagai risiko majemuk," ucap Agus Gumiwang Kartasasmita.

BUMN yang berada di lini vital perekonomian diyakini memegang peranan krusial dan memiliki andil besar dalam menentukan haluan pembangunan nasional.

"BUMN bukan sekadar entitas bisnis milik negara. Kualitas kepemimpinan BUMN tidak hanya menentukan masa depan perusahaan, tetapi juga dapat memengaruhi arah pembangunan ekonomi nasional," jelas Agus Gumiwang Kartasasmita.

Hilirisasi sumber daya alam lantas harus dioptimalkan untuk memperkuat daya saing dan menopang laju sektor manufaktur domestik di pasar internasional.

"Industrialisasi adalah proses membangun kemampuan bangsa, mulai dari kemampuan mengolah sumber daya, menguasai teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, memperkuat rantai pasok, menciptakan merek, hingga menembus pasar global," kata Agus Gumiwang Kartasasmita.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author