Pendapatan Negara Tembus Rp 1459 Triliun Pada Semester I 2026
Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Semester I Tahun 2026 mencatatkan pendapatan negara sebesar Rp 1.459,4 triliun pada Rabu (22/7/2026). Angka tersebut tumbuh 21,4 persen secara tahunan, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa realisasi belanja negara mencapai Rp 1.656,0 triliun atau naik 17,8 persen secara tahunan. Kinerja ini mencerminkan pengelolaan anggaran yang ekspansif sekaligus produktif.
"Dengan pendapatan yang tumbuh kuat, belanja yang produktif, dan pembiayaan yang dikelola secara terukur, defisit APBN tetap terkendali sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB, disertai surplus keseimbangan primer sebesar Rp 85,1 triliun," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Capaian positif tersebut mengukuhkan fungsi APBN sebagai instrumen pemulihan dan stabilitas ekonomi nasional secara berkelanjutan.
"Ini menunjukkan fiskal Indonesia tetap kuat. Dengan kinerja tersebut, kami optimis APBN akan terus menjadi instrumen yang efektif dalam menjaga stabilitas, mendukung pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan," terang Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Hasil kinerja fiskal ini menjadi dasar Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB dengan outlook stabil.
"APBN-nya bagus, ekspansif, dan mendukung pembangunan. Ini juga alasan mengapa S&P mempertahankan peringkat kita di BBB dengan outlook stabil," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Lembaga pemeringkat Lianhe Credit Rating asal Tiongkok turut memberikan peringkat AAA dengan outlook stabil untuk rencana penerbitan Panda Bond Indonesia.
"Kita keluar report-nya memberikan rating AAA stable. Jadi AAA itu yang paling tinggi. Di China peringkat utang kita itu yang mentok atas. Ini penting sekali untuk kita karena China merupakan pasar yang besar untuk surat utang," jelas Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Penilaian tinggi dari Lianhe Credit Rating didorong oleh indikator fundamental ekonomi yang solid, rasio utang prudent, serta kecukupan cadangan devisa nasional.
"Utang luar negeri kita relatif rendah, kapasitas pembayarannya cukup, devisanya juga cukup. Rasio utang pemerintah juga tetap pruden," kata Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.