Pemerintah Kolonial Belanda Sengaja Tanam Pohon Asam Jawa di Pinggir Jalan
Banyak pohon asam jawa yang tumbuh di tepi jalan wilayah Indonesia ternyata memiliki usia yang sangat tua. Umur tanaman ini bahkan melampaui generasi Z maupun generasi Alpha. Keberadaan pohon penghasil buah untuk sayur asam ini berkaitan erat dengan masa kolonial.
Pemerintah Belanda sengaja menanamnya di sepanjang jalan karena berbagai alasan tertentu. Dikutip dari Detikcom, terdapat dua faktor utama yang membuat penjajah kolonial memilih pohon asam jawa sebagai vegetasi tepi jalan.
Pohon asam jawa awalnya difungsikan sebagai tempat bernaung bagi para pengguna jalan. Hal ini selaras dengan ulasan Ariesa Pandanwangi dkk. dalam buku Peradaban Batik (Nilai dan Perkembangan) yang dikutip Setiawan (2018).
Saat tumbuh menjadi besar, tumbuhan ini memberikan dampak positif yang lebih luas bagi lingkungan sekitar. Pohon ini memproduksi oksigen dan menghasilkan bunga yang indah. Selain itu, buahnya menjadi sumber makanan yang disukai oleh kawanan burung. Karakteristik akarnya yang kuat membuat tanaman ini tahan dari hempasan angin kencang tanpa merusak struktur fondasi jalan.
Komoditas Penting dalam Pasar Perdagangan Global
Penanaman pohon ini juga tidak lepas dari motif ekonomi penimbunan kekayaan. Kebijakan tersebut berjalan beriringan dengan semboyan Gold, Glory, dan Gospel yang dianut oleh bangsa Belanda. Penulis buku Khasiat Asam Jawa: Budaya dan Tradisi dalam Kuliner Indonesia, Vanesa Adisa, menjelaskan bahwa Tamarindus indica sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia. Tumbuhan dengan ciri buah polong panjang dan kulit kasar ini berasal dari benua Afrika.
Budidaya tanaman ini awalnya berkembang di India sebelum akhirnya menyebar ke kawasan Asia Tenggara seperti Thailand, Myanmar, Sri Lanka, dan Indonesia melalui jalur perdagangan. Pedagang Arab juga membawanya ke Timur Tengah dan Eropa pada abad ke-9 dan ke-10. Masyarakat Eropa memanfaatkan komoditas ini sebagai bahan pengawet makanan serta pewarna alami.
Potensi ekonomi yang besar tersebut mendorong pemerintah Hindia Belanda memperluas lahan tanam demi memenuhi permintaan pasar dunia. Masyarakat Indonesia kini turut memanfaatkan warisan pohon asam jawa ini sebagai bumbu dapur masakan. Pada kebudayaan lain, seperti sistem medis Ayurveda di India, tanaman ini dipakai untuk pengobatan tradisional, sementara di Asia Tenggara digunakan guna mengatasi masalah pencernaan.