Mengenal Food Noise pada Anak dan Cara Orang Tua Mengatasinya

Share

Anak-anak kerap membicarakan makanan secara terus-menerus, memikirkan camilan berikutnya, atau ingin makan kembali meski baru saja selesai makan. Kondisi ini kini dikenal dalam dunia medis dengan istilah food noise.

Dilansir dari HaiBunda, para ahli menyebut fenomena ini dapat memengaruhi kesehatan fisik hingga emosional anak. Oleh karena itu, orang tua memegang peran penting dalam mendampingi anak mengelola kondisi tersebut.

Konsep ini tergolong baru dan belum memiliki definisi baku. Namun, beberapa ahli mendefinisikannya sebagai pikiran tentang makanan yang terus-menerus muncul dan mengganggu aktivitas sehari-hari anak.

Kondisi ini berbeda dengan keinginan makan biasa karena berlangsung secara konstan. Pikiran anak terus-menerus dipenuhi pertanyaan tentang apa yang akan dimakan, kapan waktunya makan, hingga porsi yang akan disantap.

Dampaknya, anak sering terdistraksi, makan meski tidak lapar, hingga memikirkan menu berikutnya saat sedang mengunyah makanan.

Bagaimana Dampaknya pada Anak-Anak?

Pikiran yang terus terfokus pada makanan berisiko memicu kenaikan berat badan tak terkendali, masalah kesehatan seperti diabetes, kecemasan, hingga risiko depresi.

Dokter spesialis anak di Amerika Serikat, Daniel Ganjian, MD, FAAP, menjelaskan bahwa fenomena ini bisa mulai muncul sejak masa kanak-kanak atau remaja seiring berkembangnya hubungan mereka dengan makanan.

"Food noise merupakan 'suara' yang muncul terus-menerus dan mengganggu di dalam pikiran seseorang mengenai makanan, aktivitas makan, dan keinginan untuk makan. Ini bisa terjadi pada anak-anak juga," ujar Daniel Ganjian.

Selain faktor genetik dan ketidakseimbangan hormon, paparan media sosial dan iklan makanan turut memperburuk kondisi ini pada kelompok usia muda.

Terapis Alli Spotts-De Lazzer, LMFT, LPCC, CEDS-C, mengibaratkan kondisi ini seperti lagu yang terus berputar di kepala tanpa bisa dihentikan.

"Hampir selalu ada makanan di sekitar kita, mudah diperoleh atau dibeli, sehingga muncul rasa mendesak untuk menuruti 'suara' tersebut agar pikiran menjadi tenang," tutur Alli Spotts-De Lazzer.

Cara Orang Tua Mengatasi Food Noise

Orang tua dapat membantu mengecilkan 'suara' pengganggu tersebut melalui beberapa langkah praktis berikut.

1. Terapkan Jadwal Makan yang Konsisten

Makan utama dan camilan pada waktu teratur membantu mengurangi kecemasan anak mengenai ketersediaan makanan berikutnya.

Dokter spesialis endokrinologi anak, Michelle Maresca, MD, memberikan penjelasannya mengenai pentingnya konsistensi jadwal ini.

"Ketika anak tahu kapan mereka akan makan berikutnya, mereka cenderung tidak terus-menerus memikirkannya," kata Michelle Maresca.

2. Fokus Saat Makan tanpa Gawai

Pastikan anak makan bersama di meja makan tanpa gangguan televisi, ponsel, atau tablet. Langkah ini melatih anak untuk fokus mengenali sinyal kenyang dan menikmati makanannya.

3. Tetap Sajikan Makanan Favorit

Hindari membuat aturan diet yang terlalu ketat. Tetap sajikan makanan kesukaan anak dalam porsi wajar demi membangun hubungan yang sehat dengan makanan.

4. Berikan Contoh Kebiasaan Sehat

Hindari melontarkan komentar negatif tentang bentuk tubuh atau makanan di depan anak, karena ucapan orang tua sangat membekas dan bisa memicu kecemasan makan pada anak.

5. Alihkan Perhatian

Ketika anak mulai terus membicarakan makanan sebelum waktunya, ajak mereka melakukan aktivitas fisik menyenangkan seperti menggambar, bersepeda, atau membaca buku.

Kapan Harus Konsultasi ke Dokter?

Orang tua disarankan segera berkonsultasi dengan dokter atau psikolog anak jika anak menunjukkan gejala yang mengganggu aktivitas harian.

Gejala tersebut meliputi kebiasaan menyembunyikan makanan, terus makan walau kenyang, cemas berlebihan, hingga kehilangan kendali atas pola makannya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author