Gempa Magnitudo 5 Guncang Wanokaka NTT Tidak Berpotensi Tsunami
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5 mengguncang wilayah Wanokaka, Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (12/7/2026) pukul 20.20.25 WIB, namun dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dilansir dari Detikcom, pusat gempa tersebut berada di kedalaman 36 kilometer. Guncangan akibat aktivitas seismik ini dirasakan di sejumlah wilayah sekitar episenter dengan skala intensitas yang bervariasi.
Peta guncangan mengestimasi intensitas gempa mencapai skala IV MMI di Kota Waibakul dan Kota Tambolaka, yang berarti getaran dirasakan banyak orang di dalam rumah hingga pintu berderik. Sementara di Kota Waingapu dan Kota Labuan Bajo, getaran terasa pada skala III MMI seperti truk yang sedang berlalu.
"Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,79° LS, 119,39° BT, atau tepatnya berlokasi di darat 2 km Tenggara Wanokaka, Nusa Tenggara Timur. Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini TIDAK BERPOTENSI TSUNAMI," kata Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Wijayanto.
Pihak BMKG segera melakukan analisis komprehensif terhadap parameter gempa bumi tersebut untuk mengetahui mekanisme pemicu utamanya di kedalaman hiposenter.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas subduksi. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust)," jelas Wijayanto.
Petugas juga terus memantau pergerakan lempeng pascagempa utama guna mendeteksi kemungkinan adanya guncangan susulan di sekitar area Sumba Barat.
Wijayanto mengatakan bahwa hingga pukul 20.45 WIB, hasil monitoring BMKG belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan. Warga diimbau tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Selain itu, masyarakat setempat diminta untuk memeriksa kondisi kelayakan bangunan tempat tinggal mereka masing-masing demi menjaga keselamatan.
"Menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," jelas Wijayanto.