BI Butuh SVBI dan SUVBI untuk Jaga Rupiah Meski Outstanding Menyusut
Bank Indonesia (BI) dilaporkan masih membutuhkan instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI). Instrumen ini berfungsi sebagai sumber pembiayaan devisa sekaligus penyangga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang meningkat. Akan tetapi, efektivitas kedua instrumen tersebut belakangan ini mulai menghadapi tantangan.
Seperti dikutip dari Bloomberg Technoz, data menunjukkan outstanding SVBI dan SUVBI telah menyusut hingga hampir 50 persen. Nilai outstanding tersebut anjlok dari sekitar US$5,6 miliar pada Oktober 2025 menjadi hanya US$2,8 miliar pada Mei tahun ini. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya minat investor asing terhadap instrumen valas BI.
Kondisi tersebut dipicu oleh menyempitnya imbal hasil dengan instrumen dolar AS lain. Deposito maupun Treasury Bills Amerika Serikat (AS) kini menawarkan yield relatif tinggi dengan risiko yang lebih rendah.
Sejak diluncurkan pada November 2023, SVBI dan SUVBI diposisikan sebagai pelengkap dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Berbeda dengan SRBI, SUVBI dan SVBI ditawarkan dalam denominasi dolar AS. Instrumen ini dirancang untuk menarik dana investor institusi global. Tujuannya adalah memperkuat cadangan devisa sekaligus memberi ruang lebih besar bagi BI dalam menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi pasar.
Data lelang terbaru dari BI memperlihatkan permintaan terhadap SUVBI dan SVBI belum sepenuhnya pulih. Pada lelang 8 Juli, total dana yang berhasil dihimpun naik 37,5 persen menjadi US$62 juta dari lelang sebelumnya sebesar US$45,1 juta. Namun, angka tersebut masih relatif kecil dibandingkan dengan kebutuhan pendalaman pasar valas domestik. Nilai ini juga belum mampu menutup outstanding yang telah tergerus dalam beberapa bulan terakhir.
Hampir seluruh permintaan terlihat masih terkonsentrasi pada tenor sangat pendek. Dari total US$62 juta yang dimenangkan pada lelang terakhir, sekitar 76 persen atau senilai US$47 juta berasal dari seri tenor satu bulan. Tenor tiga bulan hanya menyerap US$10 juta, sedangkan tenor enam bulan mengantongi US$5 juta.
Adapun tenor sembilan bulan dan satu tahun tidak mencatatkan transaksi sama sekali. Hasil lelang SVBI pada 9 Juli juga mengalami penurunan volume. Total penawaran yang masuk turun 17,6 persen menjadi US$385 juta dari posisi lelang sebelumnya sebesar US$467 juta.
Hal ini membuat total nilai yang dimenangkan turun 15,8 persen menjadi US$385 juta. Sama dengan SUVBI, komposisi permintaan terkonsentrasi pada tenor satu bulan yang meraup 87 persen atau setara US$335 juta.
Sementara itu, tenor tiga bulan hanya menyerap 13 persen senilai US$50 juta. Tenor 6, 9, dan 12 bulan bahkan tidak mencatat transaksi sama sekali, sehingga modal masuk cenderung bersifat hot money. Secara lelang harian, kedua instrumen moneter ini masih mencatat permintaan ratusan juta dolar AS.
Namun, posisi outstanding terus menyusut karena nilai instrumen yang jatuh tempo cenderung lebih besar daripada penerbitan baru. Strategis Valas Bloomberg, Chunyu Zhang mengatakan, SVBI, SUVBI, dan SRBI berpotensi mengalihkan sebagian aliran modal asing dari pasar obligasi pemerintah.
"Apabila kecenderungan ini terus berlanjut, porsi kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) kemungkinan akan sulit kembali ke level sebelum pandemi Covid-19, yakni sekitar 30-40%," kata Zhang dalam catatannya.
Di tengah melemahnya pamor SUVBI dan SVBI, SRBI diperkirakan akan tetap menjadi instrumen utama BI. BI kemungkinan mempertahankan yield SRBI pada level menarik dan menggelar lelang lebih sering untuk mendorong modal asing. Zhang menyebut SRBI tetap menarik sebagai instrumen stabilisasi dengan yield tinggi di tengah kepercayaan investor yang rapuh. Kepemilikan asing atas SRBI mulai pulih dari 12 persen pada November 2025 menjadi 22 persen pada akhir Mei 2026.
Perkembangan ini berbarengan dengan meningkatnya outstanding SRBI menjadi Rp980 triliun yang mengindikasikan kuatnya arus masuk modal asing. Situasi ini memberikan dukungan tambahan bagi rupiah serta mengurangi tekanan crowding out. Akan tetapi, Zhang menegaskan bahwa SRBI saja tidak cukup untuk sepenuhnya menopang rupiah jika penguatan dolar AS semakin tinggi.
"Instrumen ini memang mampu menarik aliran modal dan membatasi laju pelemahan rupiah, tetapi tidak akan mampu mendorong pembalikan tren secara berkelanjutan tanpa didukung oleh perbaikan sentimen pasar yang lebih luas," ujar Zhang.