BMKG Tegaskan Indonesia Tidak Berpotensi Alami Gelombang Panas Ekstrem

Share

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa wilayah Indonesia tidak memiliki potensi untuk mengalami fenomena gelombang panas atau heatwave ekstrem seperti yang melanda sejumlah negara di kawasan Eropa, Selasa (7/7/2026).

Kondisi cuaca terik yang kerap terjadi di dalam negeri dipicu oleh faktor yang berbeda dari fenomena di benua tersebut, sebagaimana dilansir dari Bloomberg Technoz. Karakteristik kepulauan Indonesia secara klimatologis membuat peluang terjadinya gelombang panas ekstrem sangat kecil karena didominasi wilayah lautan.

"Secara klimatologis, Indonesia tidak berpotensi mengalami gelombang panas (heatwave) ekstrem dengan karakteristik yang sama seperti di Eropa. Meskipun Indonesia sering mengalami cuaca yang terasa sangat terik dan gerah, fenomena tersebut memiliki penyebab dan karakteristik yang berbeda," ujar Ardhasena Sopaheluwakan, Deputi Bidang Klimatologi BMKG.

Sekitar 70 persen wilayah Indonesia berupa lautan yang berfungsi menjadi penstabil suhu atau thermal buffer dengan menyerap panas secara perlahan lalu melepaskannya lewat penguapan. Mekanisme alami ini menjaga suhu daratan tetap stabil dan jarang melampaui angka 40 derajat Celsius, berbeda dengan area daratan luas di Eropa.

"Berada di wilayah ekuator, sistem tekanan atmosfer cenderung rendah dan tidak statis. Udara selalu bergerak naik, membentuk awan, dan memicu hujan, sehingga 'kubah panas' yang mandek sulit bisa terbentuk di sini," kata Ardhasena Sopaheluwakan.

Pergerakan udara konvektif di ekuator mencegah terbentuknya sistem tekanan tinggi statis seperti Heat Dome atau Omega Block yang biasa memerangkap udara panas di Eropa hingga berminggu-minggu. Karakteristik iklim tropis Indonesia juga membuat suhu relatif konstan sepanjang tahun pada rentang 30 hingga 36 derajat Celsius saat siang hari.

Anomali suhu di Indonesia umumnya hanya berkisar 1 sampai 2 derajat Celsius dari rata-rata normal, jauh di bawah lonjakan di Eropa yang dapat mencapai 10 hingga 15 derajat Celsius. Cuaca panas di Indonesia lebih dipengaruhi oleh kelembapan udara tinggi yang menaikkan indeks panas, fenomena El Nino, atau gerak semu matahari pada bulan Maret-April dan September-Oktober.

Meskipun risiko gelombang panas rendah, BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap kenaikan suhu bertahap akibat perubahan iklim global. Langkah mitigasi kesehatan yang disarankan meliputi pemenuhan hidrasi tubuh 2 hingga 3 liter air per hari, penggunaan tabir surya minimal SPF 30, serta pembatasan aktivitas berat di luar ruangan pada jam terik pukul 11.00 hingga 15.00.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author