Gelombang Panas Ekstrem Eropa Picu Lonjakan Kematian dan Gangguan Infrastruktur

Share

Gelombang panas ekstrem yang melanda benua Eropa sejak Juni 2026 telah memicu lonjakan kasus penyakit, kematian berlebih, hingga kerusakan infrastruktur akibat kenaikan suhu udara yang terjadi dua kali lebih cepat dari rata-rata global, seperti dilansir dari Detik Health.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat dampak fatal dari situasi ini. Fenomena perubahan iklim dituding menjadi faktor utama yang membuat cuaca ekstrem ini terjadi hampir setiap tahun.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Minggu (28/6/2026).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa penumpukan massa udara panas di Eropa disebabkan oleh kombinasi pergerakan atmosfer dan letak geografis wilayah tersebut pada lintang subtropis.

"Heat wave di Eropa terutama dipicu oleh pola atmosfer seperti *omega block dan heat dome yang membuat udara panas dari Afrika Utara terperangkap di lintang menengah Eropa. Posisi garis lintang Eropa yang berada di zona subtropis-temperate membuatnya rentan terhadap aliran udara panas dari selatan ketika sirkulasi jet stream terganggu," ucap Guswanto, Sekretaris Utama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) saat dihubungi pada Rabu (1/7/2026).

Sistem tekanan udara yang tinggi menciptakan kondisi atmosfer yang statis. Hal ini membuat sirkulasi udara panas berputar di wilayah yang sama tanpa bisa berpindah.

"Hal ini menciptakan 'kemacetan atmosfer' saat sistem tekanan tinggi stabil di tengah, dikelilingi tekanan rendah di sisi barat dan timur. Akibatnya, udara panas tidak bisa bergerak keluar dan tetap menumpuk di atas Eropa," ucap Guswanto.

Meskipun situasi di Eropa mengkhawatirkan, BMKG memastikan kondisi serupa tidak akan terjadi di wilayah Indonesia karena adanya perbedaan karakteristik iklim secara geografis.

"Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," ucap Ida Pramuwardani, Plh. Direktur Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (1/7/2026).

Perubahan cuaca yang berlangsung cepat di kawasan tropis menjadi alasan utama Indonesia terhindar dari ancaman cuaca panas ekstrem yang menetap lama.

"Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave," tutur Ida Pramuwardani lagi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author