Media Sosial Picu Lonjakan Kasus Fobia Hamil Tokophobia

Share

Ketakutan berlebihan terhadap kehamilan dan proses melahirkan kini semakin marak terjadi pada sebagian perempuan. Fenomena ketakutan ekstrem ini dikenal dalam dunia medis sebagai tokophobia, seperti dilansir dari HaiBunda.

Meningkatnya kekhawatiran ini diduga kuat terjadi seiring dengan tingginya paparan cerita negatif mengenai proses persalinan di berbagai platform media sosial. Kondisi ini berbeda dari rasa gugup biasa yang wajar dialami oleh calon ibu.

Badan amal bayi Tommy's menyatakan bahwa pengidap tokophobia parah bahkan dapat melakukan tindakan ekstrem demi menghindari kehamilan. Studi sebelumnya memperkirakan sekitar 14 persen perempuan di seluruh dunia mengalami gangguan ini.

Data dari Mental Health Foundation pada tahun 2013 juga melaporkan ada 8,2 juta kasus kecemasan di Inggris. Perempuan berusia 16-24 tahun memiliki kemungkinan tiga kali lebih tinggi didiagnosis menderita gangguan kecemasan dibandingkan pria.

Dosen kebidanan di Universitas Hull, Catriona Jones, meyakini bahwa perkembangan fobia ini dipicu oleh maraknya ibu baru yang membagikan kisah mengerikan seputar persalinan secara online. Forum pribadi dan grup media sosial sering menjadi tempat berbagi pengalaman tersebut.

"Jika Anda masuk ke forum Mumsnet mana pun, ada wanita yang menceritakan kisah persalinan mereka – 'Oh, itu mengerikan', 'itu seperti pertumpahan darah', 'ini dan itu terjadi'. Saya pikir itu bisa sangat menakutkan bagi wanita untuk terlibat dan membacanya," kata Catriona dikutip dari BBC.

Tokophobia merupakan kondisi kecemasan intens terhadap kehamilan, melahirkan, atau proses menjadi ibu yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari dan hubungan sosial. Rasa takut ini juga memengaruhi keputusan seseorang untuk memiliki keturunan.

Penelitian dalam jurnal Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica membagi kondisi ini menjadi dua tipe. Tokophobia primer terjadi pada perempuan yang belum pernah hamil, sedangkan tokophobia sekunder muncul akibat pengalaman persalinan traumatis masa lalu.

Media sosial mempermudah akses terhadap berbagai cerita kehamilan, namun konten yang beredar sering kali tidak seimbang. Pengguna lebih sering menjumpai cerita komplikasi, keguguran, rasa sakit hebat, hingga trauma pascamelahirkan.

Secara psikologis, manusia memiliki kecenderungan negativity bias, yaitu lebih mudah mengingat informasi negatif. Akibatnya, muncul persepsi keliru bahwa melahirkan itu sangat berbahaya, padahal mayoritas persalinan berjalan aman dengan bantuan medis.

Sistem algoritma media sosial turut memperburuk kondisi ini dengan membentuk lingkaran ketakutan. Ketika seseorang sering melihat konten persalinan traumatis, platform akan terus merekomendasikan video serupa sehingga menimbulkan kesan seolah kejadian buruk tersebut terjadi setiap saat.

Gejala dan Cara Penanganan

Ada beberapa tanda klinis yang menunjukkan seseorang mengalami tokophobia. Gejala tersebut meliputi rasa panik saat membahas kehamilan, kecemasan akut hingga sulit tidur, serta tindakan menghindari pemeriksaan medis atau pembicaraan seputar persalinan.

Langkah Mengelola Rasa Takut

Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan untuk mengelola kecemasan ekstrem terhadap kehamilan:

Pertama, konsultasikan kekhawatiran dengan tenaga kesehatan terpercaya seperti dokter kandungan atau bidan, bukan mencari validasi medis di internet.

Kedua, batasi waktu penggunaan media sosial serta saring konten yang dikonsumsi agar lebih edukatif.

Ketiga, komunikasikan segala ketakutan yang dirasakan kepada pasangan atau mintalah bantuan profesional seperti psikolog.

Keempat, tanamkan pemahaman bahwa setiap pengalaman kehamilan bersifat unik dan cerita negatif orang lain tidak menentukan kondisi medis pribadi.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author