Studi Ungkap Penyakit Celiac Picu Gangguan Kesehatan Mental Anak
Penelitian dari University of Colorado Anschutz menunjukkan bahwa gangguan autoimun penyakit celiac pada anak-anak tidak hanya merusak sistem pencernaan tetapi juga memicu gangguan kesehatan mental yang signifikan seperti kecemasan dan depresi.
Kondisi autoimun ini diperkirakan dialami oleh satu hingga tiga persen populasi dunia, sebagaimana dilansir dari HaiBunda. Reaksi kekebalan tubuh terhadap konsumsi gluten mendisrupsi penyerapan nutrisi di usus kecil hingga memicu malabsorpsi, diare, anemia, serta hambatan tumbuh kembang anak.
Hasil riset tahun 2022 membuktikan bahwa sekitar sepertiga anak yang menderita penyakit celiac mengalami gejala kecemasan dan depresi yang cukup signifikan secara klinis tanpa terpengaruh oleh durasi diet bebas gluten maupun penyakit penyerta lainnya.
Profesor madya psikiatri dan pediatri di Fakultas Kedokteran CU Anschutz sekaligus psikolog anak di Rumah Sakit Anak Colorado, Monique Germone, PhD, menegaskan pentingnya intervensi kesehatan perilaku dalam penanganan kondisi ini.
"Saya familiar dengan tantangan menghadapi penyakit ini. Menurut saya, pasien celiac dan keluarganya perlu mendapat dukungan layanan kesehatan perilaku untuk membantu mendeteksi masalah perkembangan, pendidikan, dan perilaku sejak dini," ucap Monique Germone, PhD.
Tingginya angka kecemasan dan depresi pada anak-anak penderita autoimun ini memerlukan tindakan medis lanjutan guna memberikan penanganan psikologis secara intensif.
"Temuan ini menunjukkan bahwa anak-anak tersebut perlu segera mendapatkan pemeriksaan dari tenaga kesehatan untuk memperoleh diagnosis lebih lanjut," ucap Monique Germone, PhD.
Para ahli kesehatan mental menerapkan pendekatan model biopsikososial untuk memetakan keterkaitan antara kondisi fisik, psikologis, lingkungan sosial, hingga aturan sistem pangan terhadap kemampuan anak dalam menjalani pengobatan.
Selain aspek psikologis, kondisi kesehatan pencernaan turut dipengaruhi oleh dinamika komposisi bakteri usus. Riset dalam jurnal Frontiers in Microbiology mendokumentasikan kenaikan signifikan populasi bakteri Bacteroides ovatus pada anak yang baru terdiagnosis celiac, yang kemudian menurun setelah menjalani diet bebas gluten.
Interaksi sosial dengan sesama penderita celiac juga dinilai menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kesehatan mental serta rasa percaya diri anak.
"Perkemahan khusus menjadi tempat yang nyaman bagi anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya tanpa khawatir soal makanan, karena tersedia makanan bebas gluten yang aman," ucap Monique Germone, PhD.
Salah satu wadah interaksi sosial khusus tersebut adalah perkemahan Roundup River Ranch di Colorado yang menyediakan fasilitas dan menu bebas gluten bagi anak-anak penderita celiac.
"Koneksi sosial dan dukungan dari teman sebaya juga penting bagi kesehatan mental anak. Dengan berada di lingkungan yang memahami kondisi mereka, anak dapat merasa diterima, tidak sendirian, dan lebih percaya diri dalam menghadapi penyakit celiac," ujar Monique Germone, PhD.