Studi Ungkap Penyebab Utama Astronaut Sering Sembelit di Luar Angkasa
Kondisi tanpa gravitasi di luar angkasa terbukti membawa perubahan signifikan bagi tubuh manusia, termasuk gangguan pencernaan seperti sembelit. Dilansir dari Detik iNET, para ilmuwan kini berhasil mengidentifikasi mekanisme biologis yang memicu masalah tersebut. Masalah sulit buang air besar telah lama dialami para antariksawan saat bertugas di orbit.
Namun, pemicu pasti perubahan sistem pencernaan tersebut sebelumnya belum berhasil terungkap oleh para peneliti. Guna memecahkan misteri ini, kolaborasi riset dilakukan oleh peneliti dari University of Copenhagen bersama NASA. Mereka memeriksa sampel darah yang diambil sebelum, selama, hingga usai misi antariksa.
Sebanyak 488 sampel darah dari 52 astronaut menjadi subjek analisis dalam penelitian ini. Seluruh antariksawan tersebut tercatat pernah bertugas di International Space Station (ISS) antara tahun 2006 hingga 2018 dengan durasi dua sampai sembilan bulan.
"Kami melihat perubahan di sampel darah para astronaut yang mengindikasikan bakteri usus mulai memfermentasi protein dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya dalam beberapa minggu setelah para astronaut tiba di luar angkasa, dan perubahan ini berlanjut hingga mereka kembali ke Bumi," kata Giorgia La Barbera, salah satu penulis dari University of Copenhagen, seperti dikutip dari Space.com, Kamis (20/8/2026). Pendekatan berbasis metabolomik diterapkan untuk mengukur molekul kecil di dalam aliran darah. Metode biokimia ini membantu memetakan respons tubuh serta mikroba usus terhadap lingkungan mikrogravitasi.
Hasil analisis menunjukkan pergeseran pada sekitar 40 jenis senyawa organik. Senyawa tersebut mencakup metabolit spesifik yang dilepaskan saat bakteri usus besar memproses protein melalui fermentasi. Pada kondisi normal, mikroflora usus utamanya memfermentasi serat dan karbohidrat untuk menghasilkan energi. Pergerakan usus yang melambat membuat pasokan karbohidrat habis, sehingga bakteri beralih memecah protein dan melepas metabolit berbeda ke darah.
Perubahan metabolisme ini terdeteksi tak lama setelah penjelajah antariksa sampai di stasiun luar angkasa. Kondisi tersebut umumnya berangsur pulih hanya beberapa hari setelah mereka mendarat kembali di Bumi. "Kurangnya gravitasi di luar angkasa kemungkinan menyebabkan makanan bergerak lebih lambat melalui usus, dan ini sesuai dengan fakta bahwa kita melihat tanda-tanda peningkatan fermentasi protein," ujar Giorgia La Barbera. "Ini juga dapat membantu menjelaskan sembelit pada astronaut," sambungnya.
Penemuan ini memegang peranan krusial bagi keselamatan misi durasi panjang di masa depan, seperti penjelajahan menuju Bulan dan Mars. Selain memicu rasa tidak nyaman, lonjakan fermentasi protein berisiko menghasilkan senyawa berbahaya seperti amonia dan hidrogen sulfida.
Tim peneliti menyarankan intervensi nutrisi dengan memperbanyak asupan serat serta karbohidrat dalam menu harian astronaut. Pola makan ini bertujuan mencegah mikroba usus beralih memfermentasi protein selama menjalankan misi penjelajahan.