Dokter Spesialis Bagikan Tips Jaga Kondisi Pekerja Saat Begadang Nonton Piala Dunia
Banyak pekerja rela mengorbankan waktu istirahat mereka demi menyaksikan pertandingan sepak bola bergengsi ini secara langsung. Kondisi terjaga hingga larut malam atau dini hari tersebut kini menjadi fenomena umum selama periode turnamen. Dikutip dari Detik Health, tantangan terbesar muncul ketika laga-laga krusial dijadwalkan pada hari kerja efektif.
Para karyawan sering kali dihadapkan pada pilihan sulit antara memuaskan hobi atau mempertahankan produktivitas profesional mereka.
Meski demikian, situasi ini masih dapat dikelola dengan strategi manajemen waktu tidur yang tepat. Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi, dr Muchammad Arief Gunawan, SpOK mengonfirmasi bahwa penyesuaian pola hidup sementara dapat membantu mengatasi kelelahan.
Menurut beliau, ajang olahraga global ini hanya berlangsung dalam kurun waktu pendek sehingga dampaknya bisa diminimalisasi. Pekerja disarankan untuk mengoptimalkan jeda operasional kantor demi memulihkan energi yang terkuras akibat begadang.
"Kalau memang bisa nggak live itu lebih bagus, pasti ada record-nya kan? Tapi nggak seru ya kalau nggak live. Kalau mau di jam istirahat siang tuh, sekitar 30-45 menit lakukan istirahat, quick nap atau istirahat secara singkat," kata dr Muchammad Arief Gunawan, SpOK di Jakarta Pusat, Selasa (23/6/2026).
Strategi Mempercepat Jam Tidur Malam
Bagi pencinta sepak bola yang bersikeras menonton siaran langsung pada dini hari, memajukan waktu tidur malam adalah solusi utama.
Metode ini memastikan tubuh tetap mendapatkan kuota istirahat yang cukup sebelum beraktivitas kembali. "Kalau memang rencana mau nonton jam 4 atau 5 pagi atau 3 pagi, ya jam 8 atau jam 9 tuh harus sudah tidur," katanya. Beliau juga menyoroti kendala bagi individu yang sudah terbiasa tidur di atas pukul 11 malam.
Mengubah ritme sirkadian secara mendadak memerlukan kedisiplinan dan pengurangan stimulasi alat elektronik.
"Nah, caranya paling handphone-nya matiin. Jam 8 atau 9, HP matiin, lampunya diredupin usahakan tidur," katanya.
Bahaya Microsleep dan Penurunan Konsentrasi
Pengurangan waktu tidur secara drastis secara langsung memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan motorik di tempat kerja. Kelalaian dalam beristirahat dapat berujung pada penurunan performa kerja dan membahayakan keselamatan diri.
Risiko kecelakaan juga meningkat tajam, terutama saat karyawan melakukan perjalanan pergi atau pulang kantor dalam kondisi mengantuk. "Decision making-nya tuh bisa bermasalah. Misalnya dia disuruh kerja A, malah ngerjain B. Kemudian di perjalanan, hati-hati microsleep, tiba-tiba merem," katanya.