Kemendikdasmen Menambah Jumlah Tes Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah 2026

Share

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengembangkan jumlah tes dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah pada Rabu, 24 Juni 2026, untuk memperkuat pengenalan potensi diri serta kebutuhan dukungan murid baru, sebagaimana dilansir dari Detikcom.

Langkah baru ini mengubah skema tahun lalu yang hanya menggelar Asesmen Literasi Membaca dan Numerasi berdurasi 60 menit. Pada pelaksanaan tahun ini, para siswa baru diwajibkan menjalani tiga jenis tes sekaligus dengan total durasi pengerjaan selama 90 menit pada hari ketiga.

Rangkaian penilaian tersebut meliputi identifikasi awal kondisi sosial-emosional dan konsentrasi belajar, asesmen literasi membaca dan numerasi, serta identifikasi bakat dan minat. Selain itu, pihak kementerian mengambil alih penyediaan formulir hingga pengolahan data yang pada periode sebelumnya dikelola mandiri oleh tiap sekolah.

Perubahan format ini disampaikan oleh Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, dalam sebuah pemaparan resmi mengenai kesiapan program pengenalan sekolah ramah.

"Pada tahun 2026 ini terdapat sejumlah penguatan dibandingkan MPLS tahun 2025, terutama khususnya dalam aspek mengenal potensi diri dan juga kebutuhan dukungan murid," kata Rusprita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen.

Pihak kementerian mengintegrasikan hasil rekapitulasi data ke dalam Sistem MPLS Ramah agar laporan terperinci mengenai rekam jejak siswa baru tersebut dapat diakses oleh pemangku kepentingan di sekolah.

"Oleh karena itu, nantinya bukan hanya guru yang memanfaatkan hasil tes untuk dasar rancangan persiapan pembelajaran, tapi juga Bapak-Ibu Kepala Sekolah bisa menggunakannya untuk perencanaan program sekolah terkait bakat, minat, dan juga terkait perwujudan budaya sekolah aman dan nyaman," sampai Rusprita Putri Utami.

Laporan berkas performa murid ini juga akan dibagikan kepada orang tua demi memperkuat pola pengasuhan di rumah. Program ini pun meluas ke ranah kesehatan fisik melalui identifikasi massa tubuh dan uji fleksibilitas pada hari kedua, didukung penyediaan fasilitas cek kesehatan gratis.

"Dengan demikian, MPLS 2026 ini bergerak lebih kuat dari sekedar pengenalan lingkungan menuju pengenalan murid secara lebih utuh, baik dari aspek akademik, sosial, emosional, bakat-minat, kesehatan, dan juga kebutuhan dukungan pembelajaran," tegas Rusprita Putri Utami.

Penerapan instrumen disesuaikan per jenjang pendidikan, di mana orang tua murid TK dan SD dilibatkan mengisi data kondisi anak saat sosialisasi, sedangkan siswa SMP, SMA, dan SMK mengikuti seluruh rangkaian tes kesehatan dan akademik secara mandiri. Bagi murid SLB, proses identifikasi massa tubuh akan dibantu langsung oleh guru untuk kemudian dilaporkan kepada orang tua.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
rizka-amelia-kusuma
Author