Mengenal Refleks Moro yang Membuat Bayi Sering Kaget Saat Tidur
Gerakan refleks berupa tersentak atau kaget sering kali dialami oleh bayi baru lahir ketika mereka sedang tidur. Kondisi yang kerap membuat orang tua bingung ini sebenarnya merupakan hal yang wajar terjadi pada bulan-bulan pertama kehidupan.
Gerakan tidak disengaja ini merupakan bagian dari sistem pertahanan diri sekaligus indikator perkembangan sistem saraf bayi yang normal, seperti dikutip dari HaiBunda dari situs University of Rochester Medical Center. Salah satu refleks yang paling umum dijumpai adalah refleks kaget atau dikenal dengan istilah refleks Moro.
Menurut data dari Baby Center, refleks Moro membuat bayi yang terkejut akan tersentak, merentangkan tangan dan kaki, lalu menariknya kembali ke arah dalam tubuh. Gerakan spontan ini terkadang dapat membuat bayi terbangun dari tidurnya hingga menangis.
Refleks Moro paling sering muncul sejak bayi lahir hingga menyentuh usia 2 bulan. Meski demikian, beberapa bayi masih dapat mengalami refleks kaget ini hingga usia 3-4 bulan, atau bahkan sedikit lebih lama.
Orang tua disarankan untuk segera melakukan konsultasi dengan dokter jika refleks kaget ini masih terus bertahan setelah bayi melewati usia 6 bulan.
Cara Mengatasi Bayi yang Mudah Kagetan
Bayi yang terbangun dan menangis akibat refleks kaget memerlukan rasa nyaman agar bisa menenangkan diri kembali. Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan orang tua untuk mencegah gangguan tidur ini.
Langkah pertama adalah membedong bayi baru lahir sebelum menidurkannya agar tangan dan kaki tetap dekat dengan tubuh. Selain itu, menyalakan white noise atau musik tenang di dalam kamar dapat membantu mengurangi gangguan suara dari luar.
Orang tua juga sebaiknya meletakkan bayi secara perlahan saat akan menidurkannya di kasur. Menjaga pergerakan tetap tenang dan senyap di sekitar area tidur bayi juga sangat membantu.
Tips Tambahan dari Pakar Healthline
Berdasarkan informasi dari Healthline, orang tua dapat mempertahankan posisi bayi sedekat mungkin dengan tubuh saat hendak menurunkannya ke tempat tidur. Lepaskan dekapan secara perlahan hanya ketika punggung bayi sudah menyentuh kasur secara sempurna.
Cara ini efektif untuk meminimalkan sensasi seperti terjatuh yang sering memicu refleks Moro. Teknik membedong juga dinilai meniru suasana hangat di dalam rahim sehingga mampu membuat bayi tidur lebih lama.
Waspada Refleks Moro yang Tidak Normal
Orang tua perlu memperhatikan apabila gerakan refleks Moro terjadi secara berlebihan atau ekstrem. Hal lain yang perlu diwaspadai adalah refleks Moro yang tidak simetris, misalnya hanya satu tangan yang merentang sementara tangan lainnya diam di samping tubuh.
Kondisi asimetris tersebut dapat menjadi indikasi adanya cedera saraf atau patah tulang selangka pada bayi. Pada kasus langka, bayi yang lahir tanpa refleks Moro sama sekali bisa menjadi tanda masalah serius seperti infeksi atau gangguan neurologis.
Kriteria Kondisi Bayi yang Harus Diperiksakan ke Dokter
Refleks dasar seperti menggenggam dan refleks Moro seharusnya melibatkan kedua sisi tubuh secara seimbang. Orang tua perlu membawa bayi ke dokter apabila menemui beberapa kondisi tertentu pada gerakan refleks anak.
Kondisi pertama adalah refleks yang tidak muncul sejak awal kelahiran, yang bisa menandakan gangguan pada saraf atau otot. Kedua, gerakan refleks bersifat asimetris atau hanya terjadi pada satu sisi anggota gerak saja.
Ketiga, refleks Moro tetap bertahan jauh setelah bayi berusia 4 sampai 6 bulan. Keempat, respons refleks bayi tampak terlalu lemah saat dirangsang, atau justru terjadi secara berlebihan dan tidak terkendali.