Pejabat Federal Reserve Bersiap Naikkan Suku Bunga Acuan

Share

Mayoritas pejabat Federal Reserve mengisyaratkan kesiapan untuk mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan apabila inflasi Amerika Serikat terus bertahan di atas target dua persen.

Sikap tersebut terungkap dalam risalah rapat kebijakan Federal Open Market Committee tanggal 28 hingga 29 April yang dirilis di Washington pada Rabu, 20 Mei 2026, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

Langkah pengetatan moneter ini dipertimbangkan menyusul kekhawatiran para bankir sentral terhadap tekanan inflasi yang dipicu oleh konflik geopolitik perang Iran serta penutupan Selat Hormuz.

Dalam pertemuan tersebut, otoritas moneter memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen, meskipun memicu perbedaan pendapat dari tiga pejabat.

Dokumen notulensi menunjukkan adanya desakan dari banyak pejabat untuk menghapus pernyataan tertulis mengenai bias pelonggaran moneter demi memberi sinyal kebijakan ke depan.

"beberapa pengetatan kebijakan kemungkinan besar akan menjadi langkah yang tepat jika inflasi terus berjalan persisten di atas 2%." tulis risalah rapat Federal Open Market Committee tersebut.

Para pengambil kebijakan mengonfirmasi bahwa data ketenagakerjaan yang kuat dan laju inflasi yang cepat menjadi risiko utama yang mempersulit penurunan suku bunga pada tahun ini.

“banyak peserta mengindikasikan bahwa mereka lebih memilih menghapus bahasa dalam pernyataan setelah rapat yang menunjukkan adanya bias pelonggaran terkait arah kemungkinan keputusan suku bunga komite ke depan,” tulis risalah tersebut.

Kondisi pasar tenaga kerja saat ini dinilai masih berada dalam kondisi yang stabil oleh para pejabat, walaupun kekhawatiran terhadap prospek memburuknya harga-harga tetap tinggi.

“Sebagian besar peserta mencatat adanya peningkatan risiko bahwa inflasi akan membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke target 2 persen dibanding yang sebelumnya mereka perkirakan,” demikian isi risalah tersebut.

Di sisi lain, pasar keuangan memproyeksikan adanya peluang pengetatan kebijakan sebesar 25 basis poin pada sisa tahun ini berdasarkan pergerakan kontrak futures suku bunga.

“pertanyaan yang jauh lebih sulit” ujar Jerome Powell, Gubernur Federal Reserve.

Ia menambahkan bahwa perubahan sikap kebijakan dari bank sentral dapat terjadi dalam waktu dekat.

“mungkin saja terjadi secepat rapat berikutnya.” kata Jerome Powell.

Otoritas moneter AS sendiri dijadwalkan untuk merilis proyeksi ekonomi kuartalan terbaru setelah pertemuan kebijakan yang berlangsung pada 16 hingga 17 Juni mendatang.

Rapat mendatang dipastikan menjadi ujian awal bagi Kevin Warsh yang dijadwalkan dilantik sebagai Gubernur Federal Reserve baru oleh Presiden Donald Trump pada hari Jumat.

Selain membahas suku bunga, otoritas moneter tersebut juga mendiskusikan stabilitas sistem keuangan global melalui mekanisme pertukaran valuta asing dengan negara mitra.

"beberapa peserta rapat memberikan komentar mengenai kemungkinan komite untuk mempertimbangkan perpanjangan jangka waktu fasilitas swap lines (pertukaran valas) di atas satu tahun, mencatat bahwa perpanjangan yang lebih lama akan bermanfaat bagi stabilitas keuangan." tulis risalah tersebut.

Pembahasan mengenai fasilitas swap lines ini bergulir setelah adanya rencana perluasan peran instrumen tersebut oleh Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent untuk memperkuat posisi mata uang dolar AS.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
annisa-nur-fadhilah
Author