Astronom Ungkap Penyebab Penampakan Bulan Terlihat Berbeda dari Berbagai Wilayah

Share

Bulan yang menyinari langit malam sering kali memperlihatkan keindahan yang berubah dari fase sabit hingga purnama. Namun, bentuk satelit alami Bumi ini ternyata bisa tampak berbeda bagi setiap orang, tergantung dari lokasi tempat mereka mengamatinya.

Para astronom menjelaskan bahwa perbedaan penampakan ini terjadi akibat letak geografis pengamat di Bumi. Faktor posisi ini secara langsung mengubah perspektif atau sudut pandang manusia ketika melihat objek di luar angkasa, seperti diberitakan oleh Detikcom.

"Bagaimana kita melihat Bulan dan bintang semuanya bergantung pada perspektif," kata Pamela Gay, seorang ilmuwan senior di Planetary Science Institute, dikutip dari Live Science.

Kondisi ini menyebabkan orientasi Bulan berubah seiring perpindahan lintang pengamat di Bumi. Orang yang berada di wilayah berbeda akan menyaksikan Bulan dari sudut pandang yang berlainan pula.

Perbedaan tersebut sangat terlihat jelas saat membandingkan penampakan Bulan dari wilayah Kutub Utara dan Kutub Selatan. Di Kutub Utara, posisi kawah Tycho akan tampak berada di bagian bawah Bulan.

Sebaliknya, pengamat yang berada di Stasiun Amundsen-Scott di Kutub Selatan justru akan melihat kawah Tycho di bagian atas. Data dari Lunar and Planetary Institute juga mengonfirmasi adanya perbedaan orientasi sebesar 97,1 derajat antara Wellington di Selandia Baru dan Los Angeles di Amerika Serikat.

Selain orientasi permukaan, siklus lunar sepanjang 29,5 hari juga memicu perbedaan visual fase Bulan antara belahan Bumi utara dan selatan. Hal ini berkaitan erat dengan posisi bidang cakrawala lokal.

"Ini adalah hasil dari bagaimana bidang cakrawala lokal, berorientasi relatif terhadap posisi Bumi, Bulan, dan Matahari," kata spesialis observatorium Catherine Miller.

Masyarakat yang tinggal jauh dari garis khatulistiwa akan melihat batas wilayah terang dan gelap Bulan dalam posisi yang hampir vertikal. Dampaknya, perubahan fase Bulan terlihat bergerak secara horizontal di langit.

Akan tetapi, arah pergerakan fase tersebut saling berlawanan di kedua belahan Bumi. Di belahan Bumi utara, Bulan tampak membesar dan mengecil dari kanan ke kiri, sedangkan di belahan Bumi selatan terjadi sebaliknya.

Pemandangan unik mengenai fase ini dapat disaksikan oleh penduduk di wilayah ekuator atau khatulistiwa. Ketika Bulan mulai terbit dan bergerak menuju fase purnama, bentuk sabitnya berkembang secara vertikal.

Fenomena ini membuat Bulan sabit di daerah khatulistiwa sering kali terlihat menyerupai bentuk perahu yang sedang mengapung di langit. Sementara itu, di sebagian besar wilayah Bumi lainnya, pergeseran fase Bulan dapat berubah dari vertikal ke horizontal atau sebaliknya sesuai musim.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author