Amerika Serikat dan Iran Saling Serang di Kawasan Teluk

Share

Militer Amerika Serikat menyerang sejumlah situs radar dan drone Iran setelah mencegat proyektil di Selat Hormuz pada Sabtu (6/6/2026), yang kemudian dibalas Teheran dengan menembakkan tujuh rudal balistik ke pangkalan militer di Kuwait dan Bahrain.

Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan berhasil menjatuhkan empat drone serang satu arah milik Iran karena mengancam lalu lintas maritim regional. Pasukan Amerika kemudian menggempur fasilitas radar pengawas pantai di Iran selatan, termasuk di Sirik dan Pulau Qeshm, guna mengantisipasi serangan lanjutan.

Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan telah menggempur basis-basis musuh di wilayah tersebut menggunakan rudal kedirgantaraan. Sirene bahaya langsung aktif di Kuwait dan Bahrain seiring peluncuran rudal balistik Iran yang menyasar pangkalan udara serta fasilitas Angkatan Laut AS.

Centcom melaporkan enam rudal berhasil dicegat dan satu tidak mencapai target, serta memastikan tidak ada laporan korban dari personel AS. Manuver ini sempat memicu klaim dari media Iran bahwa kapal perang Washington terpaksa mundur ke arah Samudra Hindia akibat tembakan peringatan di Teluk Oman, namun narasi tersebut dibantah keras oleh Centcom.

Eskalasi terbaru ini mengancam gencatan senjata rapuh yang berjalan sejak April 2026, setelah konflik meluas sejak 28 February saat AS dan Israel meluncurkan serangan besar ke Iran. Blokade pelabuhan Iran oleh AS dan penutupan Selat Hormuz sebelumnya telah membuat harga minyak global melonjak tajam.

Di tengah pertempuran yang masih membara, Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan terkait perkembangan situasi militer di Timur Tengah kepada awak media di Wisconsin.

"the situation with Iran seems to be going quite well" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Pemerintah Washington saat ini menghadapi tekanan domestik menjelang pemilu paruh waktu untuk segera menyelesaikan perang yang telah berlangsung selama tiga bulan tersebut. Proses negosiasi perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari sejauh ini masih buntu karena kedua belah pihak menuntut perubahan poin kesepakatan.

"We’re going to come out of Iran very quickly and it’s going to be very strong one way or the other, whether it’s a piece of paper or the very tough way" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Dalam wawancara terpisah dengan NBC News, Trump mengungkapkan bahwa proses diplomasi memakan waktu lama karena Iran memiliki independensi yang besar. Kunjungan utusan khusus AS ke laboratorium nuklir di Tennessee juga dilakukan sebagai persiapan menuju negosiasi nuklir baru.

"it’s a very hard thing" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump menambahkan bahwa Iran saat ini diposisikan harus mengambil langkah yang sebelumnya tidak pernah mereka duga demi mencapai kesepakatan. Pihak Gedung Putih menilai Teheran tidak memiliki pilihan lain dalam situasi blockade ekonomi ini.

"There are things they never thought they’d be doing that they’re going to have to do. They’ve got no choice, and it takes a little while" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Kendati mengklaim telah melumpuhkan sebagian besar kekuatan tempur Teheran, Trump mengakui militer Iran masih menyimpan sisa persenjataan yang cukup signifikan. Jumlah persediaan rudal negara tersebut tercatat lebih tinggi dibanding estimasi bulan lalu.

"They still have capacity. They have some missiles, they have some drones. I would say, percentage wise, maybe 21, 22% of their missiles" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump juga menyinggung durasi konflik operasi militer AS yang kini melampaui target awal empat hingga enam minggu. Ia membandingkan garis waktu operasi ini dengan konflik historis masa lalu.

"I’m moving very fast" ujar Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Keterlibatan militer AS di Iran kini mulai memasuki fase baru yang lebih panjang dari perkiraan semula. Trump menegaskan penanganan konflik berjalan dinamis meski menghadapi resistensi kuat dari Teheran.

"I’m into three months, you know. Vietnam lasted 19 years. I’m into my third month" kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.

Sementara itu, ketegangan regional diperparah oleh pertempuran sengit di Lebanon selatan antara militer Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Sebanyak 21 orang tewas dalam serangan udara Israel pada Jumat, termasuk seorang petugas medis di Zebdine yang memicu kecaman keras dari Kementerian Kesehatan Lebanon.

"The targeting of parademics during rescue operations [is] an act that constitutes a barbaric violation of international humanitarian law" tulis Kementerian Kesehatan Lebanon dalam pernyataan resminya.

Konflik di Lebanon turut mempersulit negosiasi damai AS-Iran karena Teheran mensyaratkan gencatan senjata di Teluk harus mencakup penghentian serangan Israel ke Lebanon. Di sisi lain, gejolak geopolitik ini terjadi di tengah langkah AS yang tetap memberikan visa bagi tim sepak bola Iran untuk berlaga di Piala Dunia di Los Angeles pada 15 Juni mendatang.

Pertikaian diplomatik juga memanas setelah Presiden Lebanon Joseph Aoun menuduh Iran memanfaatkan negaranya sebagai posisi tawar dalam perang melawan AS dan Israel. Pernyataan dalam wawancara eksklusif bersama CNN tersebut langsung direspons negatif oleh Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.

"Had Lebanon been a bargaining chip for Iran, we’d have a deal long ago" balas Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Araghchi menegaskan bahwa Teheran tidak menjadikan kedaulatan Lebanon sebagai komoditas politik untuk mencapai kesepakatan damai dengan Washington. Ia meminta pemerintah Lebanon fokus menghadapi operasi militer Israel yang telah menewaskan lebih dari 3.500 orang sejak Maret.

"Save Lebanon from your real foe, Mr. President" tambah Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
sheila-amara-zahra
Author