Yield SUN Tenor 10 Tahun Melonjak ke 7,26 Persen Akibat Tekanan Dolar AS
Aksi jual melanda pasar Surat Utang Negara (SUN) pada sesi perdagangan Rabu (24/6/2026). Fenomena ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang persisten akibat ekspektasi hawkish The Fed. Dilansir dari Bloombergtechnoz pada 12:08 WIB, imbal hasil atau yield SUN kembali terkerek naik pada hampir semua tenor.
Tekanan jual paling kuat terjadi pada tenor acuan 10 tahun yang tercatat naik 8 bps ke 7,26%. Selanjutnya, tenor 12 juga mengalami kenaikan imbal hasil sebesar 6,5 bps ke level 7,3%. Di sisi lain, pasar sepertinya tak terlalu mengkhawatirkan risiko jangka pendek karena yield tenor 1 tahun justru turun 4,6 bps ke 7,21%.
Tak cuma obligasi pemerintah Indonesia saja yang siang ini mengalami aksi jual. Yield surat utang Korea Selatan juga mengalami kenaikan, meski pergerakannya cenderung lebih terbatas.
Arus modal investor global sepertinya cenderung mengarah pada US Treasury di tengah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Setelah menahan suku bunga acuan di rentang 3,5%-3,75%, The Fed diperkirakan akan kembali mengambil langkah hawkish dengan kenaikan suku bunga setidaknya dua kali di tahun ini. Di saat yang sama, yield surat utang pemerintah AS atau US Treasury tercatat kompak turun di semua tenor. Penurunan imbal hasil ini menggambarkan adanya aksi beli yang cukup masif dari para pelaku pasar.
| Negara & Tenor | Perubahan Yield | Nilai Akhir Yield |
|---|---|---|
| Korea Selatan 2 Tahun | +1,3 bps | 3,67% |
| Korea Selatan 5 Tahun | +0,3 bps | 4,05% |
| Korea Selatan 10 Tahun | +0,7 bps | 4,18% |
| US Treasury 2 Tahun | -2,9 bps | 4,19% |
| US Treasury 3 Tahun | -2,8 bps | 4,21% |
| US Treasury 5 Tahun | -2,1 bps | 4,26% |
| US Treasury 10 Tahun | -1,4 bps | 4,49% |